Ilustrasi perputaran rupiah di tengah kebijakan penggunaan mata uang lokal untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika (Ilustrasi : Pixabay)
Nilai rupiah yang terus melemah terhadap dolar Amerika kembali memunculkan kekhawatiran di tengah masyarakat. Dalam beberapa waktu terakhir, rupiah bahkan sempat mendekati Rp17.000 per dolar AS. Kondisi ini membuat harga barang impor naik dan biaya produksi semakin mahal. Dampaknya tidak hanya dirasakan pelaku usaha, tetapi juga masyarakat biasa yang harus menghadapi kenaikan harga kebutuhan sehari-hari. Di tengah situasi tersebut, pemerintah dan Bank Indonesia mulai mendorong kebijakan penggunaan mata uang lokal atau Local Currency Transaction (LCT) dalam perdagangan internasional sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika.
Lewat kebijakan ini, transaksi perdagangan antarnegara tidak lagi harus menggunakan dolar AS, tetapi bisa memakai mata uang masing-masing negara. Misalnya, perdagangan Indonesia dengan China dapat dilakukan menggunakan rupiah dan yuan. Pemerintah menganggap kebijakan ini penting karena selama ini dolar memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap kondisi ekonomi Indonesia. Ketika dolar menguat, rupiah langsung ikut tertekan. Karena itu, pemerintah mencoba mengurangi dominasi dolar agar tekanan terhadap rupiah tidak semakin besar.
Secara teori, kebijakan ini memang terlihat cukup menjanjikan. Jika penggunaan dolar berkurang, permintaan terhadap dolar juga bisa ditekan. Bank Indonesia bahkan mencatat transaksi LCT pada Januari sampai April 2026 mencapai 22,61 miliar dolar AS atau naik sekitar 309 persen dibanding tahun sebelumnya. Angka ini kemudian dijadikan tanda bahwa penggunaan mata uang lokal mulai berkembang dalam aktivitas perdagangan Indonesia.
Namun persoalannya, peningkatan transaksi LCT belum tentu menunjukkan bahwa kondisi rupiah benar-benar akan membaik. Pemerintah terlihat terlalu optimis melihat kenaikan angka transaksi tersebut, padahal masalah utama rupiah sebenarnya jauh lebih besar. Sampai hari ini, ekonomi Indonesia masih sangat bergantung pada impor dan modal asing. Banyak bahan baku industri masih didatangkan dari luar negeri. Artinya, kebutuhan terhadap dolar tetap tinggi meskipun transaksi LCT meningkat.
Di sisi lain, dolar Amerika masih menjadi mata uang utama dalam perdagangan dunia. Banyak negara dan pelaku usaha internasional tetap lebih percaya menggunakan dolar karena dianggap lebih stabil dan lebih aman. Kondisi ini membuat kebijakan penggunaan mata uang lokal belum mampu memberikan pengaruh besar terhadap posisi rupiah. Kebijakan ini memang bisa membantu mengurangi tekanan dalam jangka pendek, tetapi belum cukup kuat untuk mengatasi akar masalahnya.
Pemerintah juga seolah terlalu fokus pada cara mengurangi penggunaan dolar, tetapi kurang serius memperbaiki struktur ekonomi dalam negeri. Padahal penyebab rupiah melemah bukan hanya karena perdagangan internasional memakai dolar. Ada faktor lain yang jauh lebih besar, seperti tingginya suku bunga di Amerika Serikat, keluarnya modal asing dari negara berkembang, dan lemahnya ketahanan ekonomi domestik. Ketika investor melihat kondisi global tidak stabil, mereka lebih memilih menyimpan uang dalam bentuk dolar. Akibatnya, rupiah ikut melemah.
Masalah lainnya, Indonesia masih terlalu bergantung pada produk impor. Mulai dari bahan baku industri, alat teknologi, sampai kebutuhan pangan tertentu masih banyak berasal dari luar negeri. Selama kondisi ini belum berubah, permintaan terhadap dolar akan tetap tinggi. Artinya, kebijakan penggunaan mata uang lokal sebenarnya tidak akan terlalu berdampak besar jika pemerintah tidak memperkuat produksi dalam negeri.
Karena itu, pemerintah seharusnya tidak menjadikan kebijakan LCT sebagai solusi utama dalam menjaga rupiah. Kebijakan ini memang baik sebagai langkah awal, tetapi tidak cukup jika ekonomi nasional masih rapuh. Pemerintah perlu fokus memperkuat industri dalam negeri, mengurangi ketergantungan impor, dan membuka lapangan kerja yang lebih luas. Sebab rupiah tidak akan benar-benar kuat hanya karena transaksi perdagangan mulai memakai mata uang lokal.





No comments:
Post a Comment