Bukan Sekadar Pulang Tapi Memulang, Catatan Rasa dari Barisan Tari Kolosal 2026 menyambut para perantau di sulit air - Jurnalis Sumbar | Portal Berita

Breaking

" Dewan Komisaris PT.Piliang intermaya Media Beserta Wartawan/ i JurnalisSumbar mengucapkan " Selamat Ramadhan 1447 | 2026"

Friday, April 24, 2026

Bukan Sekadar Pulang Tapi Memulang, Catatan Rasa dari Barisan Tari Kolosal 2026 menyambut para perantau di sulit air


Disusun oleh : Naysila Arifin, Mahasiswa Jurusan Sastra Minangkabau Universitas Andalas


Nagari Sulit Air kembali membuktikan eksistensinya sebagai salah satu perantau paling solid dan terorganisir di Indonesia. Pada tahun 2026 ini, Pulang Basamo kembali digelar bertepatan dengan momen Mubes SAS XXIV (Musyawarah Besar Sulit Air Sepakat) dan Konferensi IPPSA XXXII (Ikatan Pemuda Pemudi Sulit Air). Acara ini bukan sekadar seremoni pulang kampung tahunan, melainkan sebuah gerakan kultural yang menyatukan ribuan nyawa dalam satu ikatan batin yang tak terputus oleh jarak geografis.

  Acara pembukaan pulang basamo Mubes dan Konferensi Nagari Sulit Air ini dibuka secara resmi, dihadiri oleh para tokoh-tokoh Sulit Air seperti Bapak Wali Nagari, ketua umum DPP SAS Bpk. Samsuddin Mukhtar dan ketua umum DPP IPPSA Sdr, Ilham Wahyudi dan banyak lainnya. Acara ini dibuka secara resmi oleh Bupati Solok, Bapak Jon Pandu. Dalam pidato pembukaannya beliau menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah dengan organisasi diaspora. "Nagari Sulit Air adalah contoh nyata bagaimana kekuatan perantau mampu menjadi katalisator pembangunan. Pulang Basamo 2026 bukan hanya tentang melepas rindu, melainkan momentum emas untuk mengonsolidasikan gagasan, inovasi, dan sumber daya demi kemajuan ranah Minang," ujar Bapak Jon Pandu di hadapan ribuan pasang mata yang memenuhi lapangan nagari.

Untuk memahami urgensi acara ini, kita harus melihat ke belakang pada sejarah panjang SAS yang telah berdiri sejak tahun 1900-an. Organisasi ini telah menjadi "pemerintah kedua" bagi warga Sulit Air di perantauan. Di sisi lain, IPPSA hadir sebagai sayap kepemudaan yang memegang estafet kepemimpinan. Konferensi IPPSA 2026 menjadi titik balik penting untuk memastikan bahwa nilai-nilai yang ada di Sulit Air tidak luntur di tangan generasi Z dan Alfa.

Kehadiran Bapak Ibuk SAS dan para pemuda dari berbagai cabang SAS & IPPSA se-Indonesia mulai dari Jakarta, Bandung, Palembang Sungai Lilin, Muaro Bungo, Pekanbaru, Bengkulu, hingga Padang, Bukittingi, Batusangkar, Solok dan banyak lainnya menunjukkan bahwa identitas kultural tetap menjadi magnet kuat. Di tengah arus globalisasi, para pemuda ini memilih untuk kembali ke akar, mempelajari sejarah moyang, dan berkontribusi langsung melalui pemikiran-pemikiran segar dalam konferensi tersebut.

Puncak dari acara pembukaan ini adalah pertunjukan Tari Kolosal yang melibatkan ratusan anggota IPPSA dari seluruh Indonesia. Saya juga sebagai salah satu penari yang terlibat langsung mewakili IPPSA Padang, saya merasakan sendiri bagaimana proses latihan sebelum ramadhan, di bulan puasa yang akhirnya melebur menjadi satu harmoni di lapangan bola Koto Tuo Sulit Air. Pertunjukan ini bukan sekadar hiburan visual, melainkan sebuah epik yang menggambarkan siklus kehidupan dan kearifan lokal (local wisdom) masyarakat Sulit Air yang membawakan tari kolosal dengan lagu setiap IPPSA denga tema yang berbeda.

• Marawa (IPPA PERTAMBURAN) : Pertunjukan dibuka dengan kibaran kain tiga warna (hitam, merah, kuning). Marawa bukan sekadar hiasan, melainkan simbol kedaulatan adat dan kemegahan identitas Minangkabau yang menyambut para tamu dengan rasa hormat yang mendalam.

• Ka sawah (IPPSA MUARO BUNGO) : Gerakan tarian yang menggambarkan etos kerja petani. Ini adalah penghormatan terhadap tanah, tempat kehidupan bermula dan kemakmuran dirajut dari bulir-bulir padi.

• Ka Sungai (IPPSA PEKANBARU) : Menggambarkan dinamika air yang menghidupi nagari. Sungai adalah jalur komunikasi purba dan sumber keberkahan yang harus terus dijaga kelestariannya.

• Surau (IPPSA BUKITTINGGI) : Bagian ini sangat menyentuh. Penari menggambarkan aktivitas mengaji dan silat. Surau adalah institusi pendidikan utama di Minangkabau, tempat di mana mental, spiritual, dan fisik pemuda ditempa sebelum mereka melangkahkan kaki ke tanah rantau.

• Ladang (IPPSA DANGAU): dari tema kesawah, menggambarkan diversifikasi sumber daya alam di perbukitan Sulit Air. Ini adalah simbol kerja keras dan ketekunan yang menjadi modal utama orang Minang saat merantau.

• Pantai (IPPSA MENTENG) : Menampilkan keberanian dan tekad. Pantai adalah pintu gerbang menuju dunia luar. Tema ini memotret perasaan melankolis sekaligus semangat membara saat seorang pemuda memutuskan untuk "pai marantau."

• Indang (IPPSA SOLOK) : Menonjolkan sisi religius yang dibalut dengan seni. Gerakan tepuk tangan dan bahu yang kompak menyimbolkan kerja sama kelompok dan keselarasan dalam bermasyarakat.

• Payung (IPPSA SUNGAI LILIN) : Simbol perlindungan. Tarian ini menggambarkan bagaimana para pemimpin dan orang tua harus mampu memberikan "payung" atau pengayoman kepada anak kemenakan mereka.

• Padusi (IPPSA PADANG) : Sebuah segmen yang sangat krusial dalam sistem matrilinial. Di sini, posisi perempuan Minang digambarkan sebagai Limpapeh Rumah Nan Gadang, pemegang kunci pusaka, dan tiang tengah peradaban nagari.

• Pasar (IPPSA KCS) : Penutup dari rangkaian narasi ekonomi dan sosial. Pasar adalah titik temu, tempat bertukarnya ide, komoditas, dan cerita. Ia menggambarkan vitalitas ekonomi Nagari Sulit Air yang dinamis.

Saya juga berasal dari IPPSA Padang, tim kami mendapatkan kehormatan untuk mendalami sub-tema dalam fragmen "Larangan Padusi". Bagi kami, ini bukan sekadar koreografi. Melalui setiap liukan tangan dan langkah kaki, kami berupaya mengomunikasikan batasan-batasan etika yang harus dipahami oleh perempuan Minang modern. Dalam literatur Sastra Minangkabau, perempuan memiliki derajat yang sangat tinggi, namun tinggi derajat tersebut berbanding lurus dengan besarnya tanggung jawab moral yang dipikul. "Larangan Padusi" adalah pengingat bahwa di tengah kebebasan kota besar, seorang perempuan Sulit Air harus tetap memiliki "rem" batin berupa nilai-nilai Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.

Kejutan budaya terjadi saat musik tari kolosal berakhir. Suasana yang semula formal dan tertata rapi berubah menjadi pesta rakyat yang hangat. Anggota IPPSA se-Indonesia secara spontan membentuk barisan besar dan memulai Tari Tabola Bale. Tarian ini sangat unik karena gerakannya yang sederhana namun penuh energi kebersamaan. Di sini, tidak ada lagi perbedaan status jabatan, semuanya adalah anak Nagari Sulit Air. Momen ini menjadi bukti bahwa Pulang Basamo 2026 berhasil mencapai tujuan tertingginya.

Fenomena Pulang Basamo, Mubes SAS, dan Konferensi IPPSA 2026 ini memberikan pelajaran penting bagi kita semua. Bahwa modernitas tidak harus menghapus tradisi. Sebaliknya, tradisi bisa menjadi energi bagi modernitas. Pesan yang selalu kami bawa sepanjang acara, "Tetap jaga kesehatan & semangat, Uda Uni kasadonyo!", bukan sekadar basa-basi. Itu adalah bahan bakar bagi kami untuk terus berkarya, baik di ranah maupun di rantau. Mubes SAS dan Konferensi IPPSA kali ini telah berhasil memulangkan rindu ke alamatnya, sekaligus memperkokoh fondasi agar identitas kultural kami tetap Saciok bak ayam, sadantiang bak basi—satu suara, satu tekad untuk kemajuan bersama.

Terima kasih Sulit Air, terima kasih SAS dan IPPSA. Sampai jumpa di Pulang Basamo berikutnya!

Bisa dilihat : https://www.instagram.com/reel/DWRD5nogeZG/?igsh=MWJ2NjBoZ3FyMzNq

https://www.instagram.com/reel/DWLIu4BESIv/?igsh=dGZ6dmNlNGhzNzc=

No comments:

Post a Comment

Kota Padang



"Prakiraan Cuaca Sabtu 24 Januari 2026"




"BOFET HARAPAN PERI"



SELAMAT DATANG DI SEMOGA ANDA PUAS