Songket Pandai Sikek: Antara Keaslian dan Warisan Budaya - Jurnalis Sumbar | Portal Berita

Breaking

" Dewan Komisaris PT.Piliang intermaya Media Beserta Wartawan/ i JurnalisSumbar mengucapkan " Selamat Ramadhan 1447 | 2026"

Wednesday, February 4, 2026

Songket Pandai Sikek: Antara Keaslian dan Warisan Budaya


Penulis: Mahasiswa KKN Pandai Sikek Universitas Andalas 2026



Songket Pandai Sikek

Nagari Pandai Sikek merupakan salah satu nagari di Kecamatan X Koto Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Pandai Sikek sejak lama dikenal sebagai Nagari penghasil songket ternama di Sumatera Barat. Songket Pandai Sikek terkenal dengan motifnya yang indah dengan warna emas dan peraknya juga pengerjaannya yang halus. Songket pandai sikek memiliki berbagai keunikan yang hanya dimiliki oleh songket dari nagari ini.Tak heran jika songket menjadi simbol kemewahan dan status sosial.

Kain tenun songket Pandai Sikek memiliki beragam motif mulai dari buah palo, salapah, simasam, saik kalamai, tampuah manggih, dan barantia putiah. Namun demikian, terdapat 4 jenis motif wajib ada dan menjadi ciri khas dari songket Pandai Sikek yaitu bayam, batang pinang, saluak laka, dan biteh.


Hanya jika selembar kain tenun songket memiliki keempat motif tersebut, maka ia dapat diakui secara autentik sebagai hasil karya pengrajin Nagari Pandai Sikek.

Dibalik setiap motifnya memiliki nilai filosofis tersendiri. Kain Songket Pandai Sikek bukan sekadar warisan nusantara yang indah secara visual, namun juga menyimpan kedalaman filosofi hidup masyarakat Minangkabau melalui setiap motifnya. Setiap helaian benang pada Songket Pandai Sikek membawa pesan kehidupan yang diwariskan secara turun-temurun melalui motif-motif khasnya.


a.) Bayam; b.) Atua Badah; c) Saluak Laka; d.)Batang Pinang (Biteh)

• Motif Batang Pinang (Kejujuran), terinspirasi dari pohon pinang yang tumbuh lurus dan tak bercabang, motif ini adalah simbol integritas. Manusia diharapkan memiliki sifat jujur, sebagaimana perajin yang harus transparan dalam menunjukkan kualitas asli tenunannya.

• Motif Bayam (Ketelitian & Kolaborasi), menekankan bahwa keberhasilan menuntut kecermatan. Tenunan yang rapat mencerminkan kualitas tinggi, sementara pola yang saling mengait melambangkan jati diri manusia sebagai makhluk sosial yang saling membutuhkan untuk berkembang.

• Motif Saluak Laka (Solidaritas), diambil dari bentuk jalinan alas periuk yang kokoh, motif ini melambangkan ikatan kekerabatan yang erat. Ini adalah simbol kekuatan kolektif masyarakat dalam memikul tanggung jawab besar melalui persatuan yang sulit diputuskan.

• Motif Atuah badah, melambangkan kekuatan kolektif dan kemuliaan dalam kesederhanaan. Nama "Atuah" (tuah/keberuntungan) yang disandingkan dengan "Bada" (ikan kecil) membawa pesan bahwa persatuan dan kekompakan mampu menghadirkan pengaruh besar serta keberkahan hidup, meskipun dimulai dari sesuatu yang kecil. Di sisi lain, kerumitan detail motif ini mencerminkan nilai ketelitian, kesabaran, dan disiplin masyarakat Minangkabau dalam menjaga kehormatan serta warisan budaya mereka

Dalam proses sertifikasi Indikasi Geografis (IG), Pemerintah Daerah sebenarnya sangat memegang peran yang penting. Selain membantu mengurus secara administratif, Pemerintah Daerah juga menjadi jembatan penghubung antara para pengrajin dengan Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) sebagai perwakilan negara. Namun dalam pasca-sertifikasi, keterlibatan Pemda kurang optimal dalam pengawasan dan pengendalian nama IG di pasar. Masih banyak yang mengeluarkan produk dengan menggunakan nama ”Songket Pandai Sikek” di lapangan untuk menarik perhatian konsumen. Pemerintah daerah cenderung belum memiliki mekanisme yang jelas dan terstruktur untuk menindak pelanggaran IG, sehingga perlindungan hukum yang seharusnya bersifat preventif dan represif menjadi lemah dalam praktik.

Songket Pandai Sikek dibuat secara turun temurun dari orang tua kepada anaknya. Budaya menenun songket secara turun temurun ini telah berlangsung sejak abad ke-19 yaitu tahun 1850-an. Pada masa itulah keterampilan menenun songket mulai berkembang di nagari ini dan secara turun-temurun diajarkan dari generasi tua kepada generasi muda sebagai bagian dari budaya dan kehidupan masyarakat setempat. Keterampilan dalam membuat songket ini diajarkan dengan praktik langsung, para penenun muda belajar dari orang tua mereka untuk membuat kain songket ini.

Songket Pandai Sikek memiliki ciri khas yang membedakannya dari songket daerah lain. Ciri tersebut diantaranya teknik menenun tradisional yang diwariskan secara turun temurun, penggunaan alat tenun bukan mesin, serta motif-motif khas Minangkabau. Selain itu, proses pembuatan songket ini sangat dipengaruhi oleh kearifan lokal masyarakat Pandai Sikek, baik dari segi keterampilan, nilai budaya, maupun filosofi yang terkandung dalam setiap motif.

Dalam pembuatan songket ini masyarakat di nagari Pandai Sikek tetap mempertahankan teknik tradisional seperti penggunaan alat bukan mesin dan pola klasik yang telah diturunkan dari generasi ke generasi berikutnya. Cara pewarisan songket ini menegaskan bahwasanya keberadaan songket bukan sekedar nilai ekonomi saja, tetapi sebagai bentuk wujud cinta pada warisan leluhur di nagari Pandai Sikek yang telah ada sejak dulu. Maka dari itu masyarakat di nagari Pandai Sikek memiliki hubungan yang kuat dengan tradisi menenun songket, karena songket merupakan bagian dari identitas daerah yang perlu dijaga dan tetap dilestarikan.

Di sisi lain masuknya produk tekstil yang bermotif dari luar daerah dan produksi pabrik yang sangat mudah tersebar luas memberikan keresahan kepada para pengrajin. Produk tersebut dijual dengan harga yang lebih murah sehingga menarik perhatian konsumen tanpa megetahui keaslian produk dan kurangnya pemahaman konsumen terhadap kualitas dari produk tersebut. Hal ini menambah daya saing pengrajin lokal, khususnya dalam penggunaan label ”Pandai Sikek” pada tiap produknya sehingga menyesatkan konsumen.

Berdasarkan kesadaran masyarakat setempat terhadap warisan budaya yang hanya dimiliki oleh masyarakat di nagari Pandai Sikek ini, sehingga kain songket buatan masyarakat yang berada di nagari Pandai Sikek ini perlu diakui dan dilindungi secara hukum. Songket Pandai Sikek mulai terdaftar secara sah sebagai Indikasi Geografis sejak tanggal 9 September 2024. Tuntutan terhadap perlindungan Indikasi Geografis (IG) berasal dari kekhawatiran masyarakat Pandai Sikek karena maraknya songket tiruan yang berasal dari luar nagari Pandai Sikek. Praktik ini berpotensi merugikan perajin lokal, baik secara ekonomi maupun reputasi. Ketika kualitas tiruan lebih rendah namun menggunakan nama yang sama, citra songket asli bisa ikut menurun. IG dipandang sebagai instrumen hukum yang dapat mencegah penyalahgunaan nama geografis tersebut.

Logo Indikasi Geografis Songket Pandai Sikek

Pentingnya Indikasi Geografis untuk Songket Pandai Sikek adalah untuk melindungi pemalsuan dan penyalahgunaan, menjamin mutu dan kualitas produk, meningkatkan nilai ekonomi masyarakat, dan meningkatkan branding daerah secara nasional dan internasional. Selain aspek perlindungan penggunaan indikasi geografis juga menjadikan pembeli lebih percaya terhadap asal usul songket yang mereka beli. Dengan adanya IG ini para pembeli bisa dengan mudah mengetahui kain songket yang berasal dari nagari Pandai Sikek secara mudah. Kualitas yang dimiliki kain songket Pandai Sikek pun dapat diketahui dengan mudah.

Selain itu dengan ditetapkannya Songket Pandai Sikek sebagai produk berindikasi geografis, para pengrajin memperoleh manfaat yang signifikan. Perlindungan ini meningkatkan nilai tambah produk, memperkuat posisi tawar di pasar, serta membuka peluang yang lebih luas dalam pengembangan ekonomi lokal. Di sisi lain, konsumen juga mendapatkan jaminan atas keaslian dan mutu produk yang dibelinya. Indikasi geografis ini menekankan bahwa Songket Pandai Sikek hanya di produksi di Nagari Pandai Sikek, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, songket ini telah diakui secara resmi sebagai produk Indikasi Geografis yang tidak bisa dipisahkan dari identitas asalnya.

Menurut pengrajin dalam menentukan keaslian songket Pandai Sikek, konsumen dapat melihat dari bahan yang digunakan. Songket Pandai Sikek asli umumnya menggunakan benang sutra, katun berkualitas tinggi, serta benang emas. Selain itu, dapat juga dilihat dari teknik dan proses pembuatannya. Songket Pandai Sikek ditenun secara manual menggunakan alat tenun bukan mesin. Proses pembuatannya memerlukan waktu yang lama, mulai dari beberapa minggu hingga berbulan-bulan, tergantung pada tingkat kerumitan motif. Kerapian tenunan, kepadatan benang, serta ketelitian pada detai motif menjadi indikator penting keaslian songket.

Selain keaslian, konsumen juga perlu memahami dan mengetahui patokan harga Songket Pandai Sikek. Harga songket sangat dipengaruhi oleh jenis bahan, tingkat kerumitan motif, ukuran kain, serta lama proses pengerjaan. Songket Pandai Sikek umumnya dibanderol dengan harga relatif tinggi, mulai dari jutaan hingga puluhan juta rupiah.

Harga yang dibanderol untuk selembar kain ini pada akhirnya menjadi cerminan dari kompleksitas proses yang dilalui. Di balik kemilau benang emasnya, tersimpan dedikasi perajin yang menghabiskan waktu berbulan-bulan dalam kesabaran dan ketelitian. Memilih Songket Pandai Sikek asli bukan sekadar tentang membeli barang mewah, melainkan bentuk apresiasi terhadap sebuah karya seni yang diproduksi dengan integritas tinggi, di mana setiap tarikan benang membawa martabat pengrajin dan nama baik Nagari.

Menjaga keaslian songket ini berarti menjaga keberlangsungan pesan-pesan leluhur yang tertuang dalam motifnya. Tanpa perlindungan hukum yang kuat dan kesadaran konsumen untuk memilih produk original, nilai-nilai seperti kejujuran Batang Pinang atau kemuliaan dalam kesederhanaan Atuah Bada terancam tergerus oleh komodifikasi tekstil massal yang hanya mengejar keuntungan sesaat. Indikasi Geografis (IG) hadir sebagai benteng terakhir untuk memastikan bahwa identitas kultural ini tidak dicuri atau dipalsukan oleh kepentingan pasar yang tidak bertanggung jawab.

Memahami Songket Pandai Sikek adalah perjalanan menghargai "cerita keringat" yang tidak bisa digantikan oleh mesin mana pun. Dengan mengenali ciri khas, memahami filosofi, dan mendukung perlindungan hukumnya, kita turut memastikan bahwa seni menenun ini tetap menjadi napas kehidupan di Nagari Pandai Sikek. Warisan nusantara ini tidak boleh hanya berhenti sebagai pajangan di etalase, melainkan harus tetap hidup sebagai simbol kehormatan masyarakat Minangkabau yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.




No comments:

Post a Comment

Kota Padang



"Prakiraan Cuaca Sabtu 24 Januari 2026"




"BOFET HARAPAN PERI"



SELAMAT DATANG DI SEMOGA ANDA PUAS