Ticker

6/recent/ticker-posts

Organisasi Mahasiswa Tak Lagi Relevan

Disusun oleh : MIRANTI                              Nim : 2501041014

PROGRAM STUDI S1 KEBIDANAN.  FAKULTAS ILMU KESEHATAN.   UNIVERSITAS DHARMAS INDONESIA TAHUN 2026


Dosen Pengampu :Dr. Amar Salahuddin, M.Pd

 



Di tengah dinamika kehidupan kampus modern, muncul pandangan bahwa organisasi mahasiswa tidak lagi relevan bagi generasi muda. Anggapan ini kerap terdengar dari mahasiswa yang menilai organisasi kampus sebagai kegiatan yang menyita waktu, tidak memberikan manfaat langsung, atau bahkan sekadar ajang formalitas. 

Perubahan gaya hidup, tuntutan akademik yang tinggi, serta dominasi dunia digital membuat minat berorganisasi semakin menurun. 

Namun, benarkah organisasi mahasiswa telah kehilangan relevansinya?

 Pandangan tersebut tidak muncul tanpa alasan. Banyak mahasiswa saat ini lebih fokus pada pencapaian akademik, pengembangan karier, atau aktivitas individu seperti bekerja paruh waktu dan membangun personal branding melalui media sosial. Organisasi mahasiswa sering kali dipersepsikan identik dengan rapat panjang, konflik internal, dan kegiatan seremonial yang minim dampak nyata. 

Tidak sedikit pula organisasi yang terjebak dalam rutinitas tanpa inovasi, sehingga sulit menarik minat generasi mahasiswa yang menginginkan hasil cepat dan konkret.

 Di sisi lain, sistem pendidikan tinggi yang semakin kompetitif mendorong mahasiswa untuk bersikap pragmatis. Sertifikat, IPK tinggi, dan pengalaman magang dianggap lebih berharga dibandingkan aktivitas organisasi. Akibatnya, organisasi mahasiswa dinilai tidak relevan dengan kebutuhan zaman yang serba cepat dan berorientasi hasil. Jika organisasi tidak mampu menyesuaikan diri dengan realitas ini, maka wajar jika kehadirannya mulai dipertanyakan.

Namun, menyimpulkan bahwa organisasi mahasiswa tidak lagi relevan merupakan pandangan yang terlalu menyederhanakan persoalan. 

Secara historis dan substantif, organisasi mahasiswa memiliki peran penting dalam pembentukan karakter, kepemimpinan, dan kesadaran sosial. Banyak tokoh bangsa lahir dari proses panjang di organisasi mahasiswa, di mana mereka belajar berargumen, bernegosiasi, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab atas kepentingan bersama. 

Nilai-nilai ini tidak selalu diperoleh di ruang kelas.

Organisasi mahasiswa juga menjadi ruang belajar demokrasi yang nyata. 

Melalui musyawarah, perbedaan pendapat, dan dinamika kepengurusan, mahasiswa dilatih untuk menghargai keberagaman dan menyelesaikan konflik secara dewasa. 

Di era modern yang rawan polarisasi dan intoleransi, pengalaman semacam ini justru semakin relevan. 

Organisasi mahasiswa dapat menjadi benteng pembentukan sikap kritis dan etis di tengah arus informasi yang tidak selalu sehat.

Masalah utama sebenarnya bukan pada relevansi organisasi mahasiswa, melainkan pada cara organisasi itu dijalankan. 

Banyak organisasi gagal beradaptasi dengan kebutuhan dan karakter generasi saat ini. 

Pendekatan yang kaku, hierarki yang terlalu formal, serta program kerja yang tidak menyentuh kebutuhan nyata mahasiswa membuat organisasi terasa usang. 

Tanpa inovasi, organisasi mahasiswa akan tertinggal dan kehilangan daya tariknya.

Oleh karena itu, organisasi mahasiswa perlu melakukan transformasi. Kegiatan organisasi harus lebih kontekstual, berdampak, dan adaptif terhadap perkembangan zaman. 

Pemanfaatan teknologi digital, program yang berbasis minat dan bakat, serta kolaborasi dengan pihak luar seperti industri dan masyarakat dapat menjadi langkah strategis. 

Organisasi tidak lagi sekadar tempat berkumpul, tetapi wadah pengembangan diri yang relevan dengan tantangan dunia nyata.

 Selain itu, mahasiswa juga perlu mengubah cara pandangnya. 

Organisasi bukan penghambat kesuksesan akademik, melainkan pelengkap. Keterampilan komunikasi, kepemimpinan, manajemen waktu, dan empati sosial yang diperoleh dari organisasi justru menjadi bekal penting dalam dunia kerja dan kehidupan bermasyarakat. Pendidikan tinggi seharusnya tidak hanya mencetak lulusan pintar, tetapi juga individu yang matang secara sosial dan emosional.

Pada akhirnya, organisasi mahasiswa bukan tidak relevan, melainkan sedang diuji relevansinya. Jika organisasi mampu berbenah dan mahasiswa mau kembali melihat esensi berorganisasi, maka organisasi mahasiswa akan tetap menjadi pilar penting dalam kehidupan kampus. 

Di tengah perubahan zaman, yang perlu ditinggalkan bukan organisasinya, tetapi cara lama yang sudah tidak sesuai dengan kebutuhan generasi masa kini.

Post a Comment

0 Comments


SELAMAT DATANG DI SEMOGA ANDA PUAS