Penulis:Obral Chaniago
Pesisir Selatan membentang indah sepanjang 251 km dari perbatasan Padang hingga Lunang Silaut, merangkul Samudera Hindia dengan pesona alam yang abadi.
Dijuluki Negeri Seribu Pesona, daerah ini merupakan perpaduan harmonis antara perbukitan hijau, pantai, dan kehidupan trandisional yang bersahaja.
Di bibir pantai, nelayan menjaring pukat hela, sementara ternak sapi pesisir dilepasliarkan di pinggir hutan hingga senja tiba. Di Bayang, sawah menghijau menjadi tempat itik mencari makan, kontras dengan harum durian Barung Balantai yang jatuh di Koto Tarusan.
Dari sejarah Portugis di Pulau Katang-katang hingga kisah Mande Rubiah di Indraura, sejarah panjang terukir di sini. Wisata Batu Kalang dan Batu Kareta menyuguhkan keindahan memukau, sementara Puncak Langkisau menawarkan pemandangan Samudera yang menakjubkan.
Membentang dari perbukitan Tarusan, Batang Kapeh, hingga dataran rendah Linggo Sari Baganti, daerah ini memadukan keasrian alam dengan keramahan penduduk yang santun.
Jalan provinsi Bayang-Alahan Panjang kini membuka isolasi, menghubungkan hasil laut pesisir dengan sayur mayur dari puncak Bukit Barisan.
Pesisir Selatan, sejatinya adalah permata alam yang menyatukan pegunungan perawan dan laut biru, menjadikannya yang pantas dijuluki seribu pesona.
Pesisir Selatan, bentangan pesona Samudera Hindia dari Bungus hingga perbatasan Bengkulu, adalah negeri seribu pesona di bibir pantai Sumatera Barat.
Nelayan menjaring pukat hela, sapi merumput di pinggir hutan, dan petani di Bayang bertanam padi hingga memanen durian harum di Koto Tarusan. Dari mistisnya Pulau Katang-katang, jejak emas Salido Ketek, hingga syahdunya Mandeh, tempat memadukan keindahan alam perawan dengan kehangatan penduduknya yang santun, kini terhubung erat dengan sejuknya Alahan Panjang.
Nyanyian dari Negeri Seribu Pesona
Sepanjang 251 kilometer bentangan takdir
Dari batas Bungus hingga riuh ombak Muko-muko
Kabupaten Pesisir Selatan, sejuta pesona terukir
Di bibir Samudera India, laut biru tak bertepi,
hijau pegunungan yang merona.
Pagi hari, nelayan tradisional menyapa camar
Mesin perahu berderu, tenang dalam hidup yang samar
Ternak dilepas di pinggir hutan, kembali di sore
hari tanpa takut.
Di Bayang, sawah menghijau menjadi tumpuan
Itik-itik berenang, bertelur di malam yang tenang
Koto Tarusan duriannya harum, memanggil kerinduan
Jatuh di musimnya, rezeki alam yang datang menjelang.
Dari sejarah Portugis di Pulau Katang-katang
Hingga emas Salido ketek, kisah purba terpendam
Mande Rubiah di Indrapura, legenda yang tak pernah hilang
Batang kapeh saksi dagang rempah, gambir dan pala yang meredam.
Pesisir Selatan, dulu "Dabua Ombak Pasisie" kini memukau
Penduduk ramah bertutur, menyapa pengunjung dunia
Mandeh yang perawan, puncak Langkisau tempat meninjau
Air terjun Bayang Sani, jembatan akar buatan alam yang mulia.
Kini jalan meliuk, menghubungkan bukit dan pantai
Ikan segar dan sayur mayur bertukar tangan
Isolasi sirna, akses baru membawa damai
Pesisir Selatan, seribu pesona yang takkan terlupakan.(*).





No comments:
Post a Comment