Ticker

6/recent/ticker-posts

Nilai Akademik Tinggi, Empati Rendah



Oleh : Fitri yanti.                                             Nim : 2501041008

 PROGRAM STUDI S1 KEBIDANAN.  FAKULTAS ILMU KESEHATAN.   UNIVERSITAS DHARMAS INDONESIA TAHUN 2026

Dosen Pengampu :  Dr. Amar Salahuddin, M.Pd

 

Di banyak sekolah dan lembaga pendidikan, nilai akademik masih menjadi ukuran utama keberhasilan siswa. 

Peringkat kelas, nilai rapor, dan hasil ujian sering dijadikan tolok ukur kecerdasan sekaligus masa depan seseorang.

 Namun, di balik angka-angka yang tampak membanggakan itu, muncul pertanyaan penting. apakah sistem pendidikan kita juga berhasil membentuk manusia yang berempati?

Realitas di lapangan menunjukkan ironi yang mengkhawatirkan. 

Banyak pelajar mampu meraih nilai tinggi, tetapi kurang memiliki kepedulian terhadap sesama, bahkan empati terhadap teman yang sedang mengalami kesulitan. Fenomena ini bukan kesalahan individu semata, melainkan cerminan dari sistem pendidikan yang terlalu menomorsatukan prestasi akademik dan mengesampingkan nilai kemanusiaan.

Tekanan akademik yang berlebihan menjadi salah satu penyebab utama. Sejak dini, siswa dibebani tuntutan untuk selalu unggul harus juara kelas, masuk sekolah favorit, dan meraih nilai sempurna. 

Dalam situasi seperti ini, empati sering kali dianggap tidak relevan karena tidak masuk dalam penilaian. 

Akibatnya, siswa terbiasa berkompetisi tanpa memedulikan kondisi mental dan emosional diri sendiri maupun orang lain.

Budaya kompetisi yang tidak sehat perlahan mengikis rasa kebersamaan. Teman sekelas bukan lagi rekan belajar, melainkan pesaing. 

Ketika seseorang tertinggal atau mengalami kegagalan, alih-alih mendapat dukungan, ia justru kerap menerima stigma sebagai siswa malas atau tidak mampu. 

Di sinilah empati mulai kehilangan tempatnya dalam dunia pendidikan.

Lebih jauh lagi, fokus berlebihan pada capaian akademik turut berdampak pada kesehatan mental siswa. Banyak pelajar mengalami stres, kecemasan, bahkan kelelahan emosional akibat tuntutan yang terus meningkat.

 Ironisnya, kondisi ini sering dinormalisasi. Kalimat seperti “namanya juga pelajar, wajar stres” seolah menjadi pembenaran untuk mengabaikan jeritan mental generasi muda.

Padahal, pendidikan sejatinya tidak hanya bertujuan mencerdaskan otak, tetapi juga membentuk karakter. 

Empati adalah fondasi penting dalam kehidupan bermasyarakat. Tanpa empati, kecerdasan akademik dapat berubah menjadi sikap individualistis, arogan, dan kurang peduli terhadap lingkungan sekitar. 

Nilai tinggi tanpa empati justru berpotensi melahirkan generasi yang sukses secara personal, tetapi miskin kepedulian sosial.

Peran sekolah sangat krusial dalam mengatasi persoalan ini. 

Guru tidak seharusnya hanya berfungsi sebagai pengajar materi, tetapi juga sebagai pendidik nilai. 

Lingkungan sekolah perlu menjadi ruang aman bagi siswa untuk saling mendukung, bukan sekadar arena perlombaan nilai. Pembelajaran kolaboratif, diskusi reflektif, dan pendidikan karakter harus mendapatkan porsi yang setara dengan pelajaran akademik.

Selain itu, sistem evaluasi juga perlu ditinjau ulang. Selama keberhasilan siswa hanya diukur melalui angka, maka empati akan terus berada di posisi pinggir. Penilaian sikap, kepedulian sosial, dan kerja sama seharusnya tidak sekadar formalitas, tetapi benar-benar diterapkan secara konsisten. 

Dengan begitu, siswa akan memahami bahwa menjadi manusia yang baik sama pentingnya dengan menjadi siswa yang pintar.

Peran orang tua pun tidak kalah penting. Harapan yang terlalu tinggi terhadap prestasi anak sering kali tanpa disadari menjadi sumber tekanan. 

Orang tua perlu menyadari bahwa keberhasilan anak bukan hanya tentang nilai rapor, tetapi juga tentang bagaimana ia memperlakukan orang lain, mengelola emosi, dan menghadapi kegagalan dengan sehat.

Sudah saatnya kita merefleksikan kembali arah pendidikan kita. 

Apakah kita ingin mencetak generasi yang hanya pandai mengerjakan soal, atau generasi yang juga mampu memahami, peduli, dan berempati? 

Dunia saat ini tidak hanya membutuhkan orang-orang cerdas, tetapi juga manusia yang memiliki kepekaan sosial dan kemanusiaan.

Nilai akademik yang tinggi memang membanggakan, tetapi empati yang rendah adalah peringatan. 

Tanpa keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan emosional, pendidikan kehilangan maknanya. Pendidikan seharusnya memanusiakan manusia, bukan sekadar menghasilkan angka-angka prestasi. 

Jika empati terus diabaikan, maka kita patut bertanya. untuk siapa sebenarnya pendidikan itu dijalankan?

Post a Comment

0 Comments


SELAMAT DATANG DI SEMOGA ANDA PUAS