Oleh ; Yilma adela puspita Raya Nim : 2501041023
PROGRAM STUDI S1 KEBIDANAN. FAKULTAS ILMU KESEHATAN. UNIVERSITAS DHARMAS INDONESIA TAHUN 2026
Dosen Pengampu : Dr. Amar Salahuddin, M.Pd
Dalam praktik kebidanan, tidak semua situasi menawarkan pilihan yang ideal.
Ada kalanya seorang bidan harus bekerja di tengah keterbatasan fasilitas, tekanan waktu, regulasi yang kaku, dan kondisi sosial pasien yang kompleks.
Dalam ruang seperti itulah kebidanan Indonesia sesungguhnya dijalankan: bukan sebagai profesi yang selalu mampu menyelamatkan segalanya, melainkan sebagai upaya terus-menerus untuk menyelamatkan yang mungkin.
Frasa"menyelamatkan yang mungkin” mungkin terdengar pesimistis.
Namun di baliknya tersimpan realisme yang jarang diakui secara terbuka. Banyak bidan memahami bahwa tidak semua rekomendasi buku teks dapat diterapkan utuh di lapangan. Tidak semua prosedur ideal dapat dilakukan tepat waktu.
Dan tidak semua keputusan memiliki konsekuensi yang sepenuhnya benar atau salah.
Kebidanan bekerja dalam wilayah abu-abu, di mana keputusan sering diambil dengan mempertimbangkan risiko yang paling bisa ditekan, bukan hasil yang paling sempurna.
Sistem kesehatan sering menampilkan dirinya sebagai struktur yang rasional dan terukur. Indikator keberhasilan dirumuskan dalam angka: cakupan pelayanan, angka rujukan, penurunan risiko, dan kepatuhan terhadap prosedur.
Di atas kertas, sistem tampak logis dan objektif.
Namun di ruang praktik, bidan berhadapan dengan realitas yang tidak selalu patuh pada logika sistem.
Pasien datang terlambat karena alasan ekonomi, fasilitas rujukan jauh dan sulit diakses, atau keluarga mengambil keputusan berdasarkan keyakinan tertentu.
Di tengah kondisi ini, bidan tetap dituntut untuk mengambil keputusan cepat dengan sumber daya terbatas.
Dalam situasi seperti itu, kebidanan menjadi praktik negosiasi.
Bukan negosiasi kepentingan pribadi, melainkan negosiasi antara standar medis dan kondisi nyata pasien. Seorang bidan mungkin harus memilih intervensi yang “cukup aman” alih-alih yang paling ideal.
Keputusan semacam ini sering kali tidak tercermin dalam laporan resmi. Namun justru di sanalah tanggung jawab profesional dijalankan dengan penuh kesadaran dan keberanian.
Sayangnya, narasi kebidanan di ruang publik sering kali tidak memberi tempat bagi realisme semacam ini.
Bidan digambarkan sebagai pahlawan tanpa cela atau sebaliknya, disorot hanya ketika terjadi kegagalan. Padahal, sebagian besar praktik kebidanan berlangsung di wilayah tengah: tidak heroik, tidak pula problematik, tetapi penuh pertimbangan moral yang rumit.
Keberhasilan kebidanan bukan selalu tentang hasil sempurna, melainkan tentang upaya meminimalkan dampak buruk dalam kondisi yang tidak sempurna.
Kondisi sistem yang tidak ideal juga berdampak pada psikologis bidan. Banyak bidan memikul beban emosional akibat keputusan-keputusan sulit yang harus mereka ambil.
Tidak jarang mereka mempertanyakan diri sendiri, meskipun telah bekerja sesuai kemampuan terbaik.
Namun ruang untuk membicarakan beban ini masih sangat terbatas. Sistem lebih fokus pada hasil, bukan pada proses batin tenaga kesehatan yang menjalaninya.
Di sisi lain, justru dalam keterbatasan itulah kebidanan menunjukkan wajah kemanusiaannya. Ketika sistem tidak sepenuhnya hadir, bidan sering kali menjadi satu-satunya figur yang bisa diandalkan.
Kehadiran bidan yang bersedia mendengar, menjelaskan dengan jujur, dan mengambil keputusan dengan empati menjadi faktor penentu kualitas asuhan. Ini bukan aspek yang dapat diukur dengan mudah, tetapi dampaknya nyata bagi pengalaman perempuan dalam menghadapi kehamilan dan persalinan.
Menyelamatkan yang mungkin bukan berarti menurunkan standar profesi. Sebaliknya, ia menuntut tingkat kebijaksanaan yang tinggi.
Bidan harus memahami batas sistem tanpa menyerah pada keterbatasan tersebut.
Mereka dituntut untuk terus belajar, beradaptasi, dan berani bersikap manusiawi di tengah tekanan struktural. Sikap ini jarang disorot, namun justru menentukan keberlanjutan praktik kebidanan itu sendiri.
Jika kebidanan ingin terus relevan, maka diskursus tentang profesi ini perlu lebih jujur.
Kita perlu mengakui bahwa sistem tidak selalu ideal, dan bahwa bidan sering bekerja dalam kondisi yang jauh dari sempurna. Mengakui hal ini bukan bentuk kelemahan, melainkan langkah awal untuk perbaikan yang lebih manusiawi.
Pada akhirnya, kebidanan bukan tentang menyelamatkan segalanya.
Ia adalah tentang hadir, memilih dengan tanggung jawab, dan melakukan yang terbaik dalam situasi yang tersedia.
Di tengah sistem yang tidak sempurna, menyelamatkan yang mungkin adalah bentuk keberanian yang paling nyata


































0 Comments