Ticker

6/recent/ticker-posts

Menata Serpihan Pikiran: Bagaimana Menulis Membantu Kita Mengatasi Trauma

Penulis: Aldyaksa Jaka Utama
Mahasiswa Universitas Andalas


Trauma sering kali bekerja seperti ledakan di dalam kepala; ia meninggalkan serpihan-serpihan ingatan yang tajam, acak, dan menyakitkan. Saat seseorang mengalami kejadian traumatik, otak sering kali gagal memproses informasi tersebut secara kronologis. Akibatnya, ingatan tersebut tetap hidup dalam bentuk emosi yang meluap-luap atau kilas balik (flashback) yang membingungkan.

Di sinilah menulis mengambil peran bukan sekadar sebagai hobi, melainkan sebagai alat bertahan hidup dan instrumen penyembuhan.

Salah satu pionir dalam bidang ini adalah Dr. James Pennebaker, seorang psikolog dari University of Texas at Austin. Melalui penelitiannya mengenai Expressive Writing (Menulis Ekspresif), Pennebaker menemukan bahwa menulis tentang pengalaman yang menekan atau traumatik selama 15-20 menit sehari dapat meningkatkan fungsi sistem kekebalan tubuh dan kesejahteraan psikologis.

Menurut Pennebaker, trauma membuat pikiran kita terjebak dalam putaran narasi yang belum selesai. Menulis memaksa kita untuk menstrukturkan pengalaman tersebut ke dalam unit-unit bahasa yang masuk akal, yang pada gilirannya membantu otak untuk "meletakkan" memori tersebut pada tempatnya.

Selain itu, dalam buku fenomenal The Body Keeps the Score, Dr. Bessel van der Kolk menjelaskan bahwa trauma sering kali menonaktifkan area otak yang bertanggung jawab atas bahasa (area Broca). Menulis membantu mengaktifkan kembali sisi kognitif kita, memungkinkan penyintas untuk mengambil jarak dari emosi yang melumpuhkan dan mulai melihat peristiwa tersebut sebagai bagian dari masa lalu, bukan ancaman masa kini.

Menata Serpihan: Analogi Menjahit Luka

Jika kita mengembangkan perspektif para ahli di atas, menulis dapat diibaratkan sebagai proses menjahit luka. Saat trauma terjadi, narasi hidup kita robek. Menulis adalah jarum dan benang yang perlahan-lahan menyatukan kembali robekan tersebut.

Berikut adalah bagaimana proses menulis bekerja sebagai alat bertahan hidup menurut refleksi mendalam:

1. Mengubah "Hantu" Menjadi "Teks" Trauma terasa menakutkan karena ia abstrak dan tak berbentuk ia adalah rasa sesak di dada atau keringat dingin yang tiba-tiba. Saat kita menuliskan, "Saya merasa takut karena...", kita sedang mengubah "hantu" yang tak terlihat itu menjadi objek konkret (teks) yang bisa kita lihat, baca, dan evaluasi. Dengan memberi nama pada rasa sakit, kita mulai memegang kendali atas rasa sakit tersebut.

2. Menciptakan Jarak Aman (Self-Distancing) Menulis memberikan kita posisi sebagai "pengamat". Saat menuangkan perasaan ke atas kertas, kita menciptakan jarak antara diri kita sebagai subjek dan pengalaman kita sebagai objek. 

Jarak ini sangat krusial agar kita tidak tenggelam dalam emosi saat mencoba memproses apa yang telah terjadi.

3. Membangun Kembali Narasi Diri Trauma sering kali merampas rasa keberdayaan (agency) seseorang. Penulis yang sedang memulihkan diri sebenarnya sedang merebut kembali haknya untuk bercerita. Kita bukan lagi korban yang pasif, melainkan narator yang berkuasa menentukan bagaimana cerita ini akan berakhir.

Menulis tidak serta-merta menghapus trauma, karena luka masa lalu mungkin akan selalu meninggalkan bekas. Namun, dengan menulis, kita memastikan bahwa serpihan-serpihan pikiran itu tidak lagi berserakan dan melukai kita dari dalam. 

Kita menatanya menjadi sebuah buku, menyimpannya di rak ingatan, dan akhirnya memiliki ruang yang cukup di kepala untuk melanjutkan hidup.

"Kita menulis untuk mencicipi hidup dua kali: sekali pada saat kejadian, dan sekali lagi dalam retrospeksi untuk memahaminya."


Post a Comment

0 Comments


SELAMAT DATANG DI SEMOGA ANDA PUAS