Ticker

6/recent/ticker-posts

Generasi Teknologi Berdaya Saing dan Berakhlak Mulia


Oleh: Ragil Arrofi                                     Program Studi Teknik Sipil, Universitas Islam Riau


Revolusi Industri 4.0 telah membawa perubahan mendasar dalam kehidupan manusia, baik dalam cara berkomunikasi, bekerja, maupun berinteraksi sosial. Perkembangan digital yang berlangsung sangat cepat menimbulkan tantangan baru dalam membentuk generasi masa depan yang tidak hanya terampil dalam teknologi, tetapi juga memiliki landasan moral yang kuat. Oleh karena itu, gagasan tentang generasi teknologi yang berdaya saing dan berakhlak mulia menjadi semakin penting sebagai respons terhadap tuntutan zaman yang mengharuskan adanya keseimbangan antara kemajuan teknologi dan nilai-nilai kemanusiaan. Dalam konteks Indonesia yang sedang mempercepat transisi menuju ekonomi digital, pembentukan generasi dengan kedua karakteristik tersebut menjadi faktor kunci agar perkembangan teknologi tidak hanya mendorong efisiensi ekonomi, tetapi juga menciptakan kesejahteraan sosial yang berkelanjutan.

Kemampuan bersaing di bidang teknologi merupakan kompetensi utama yang harus dimiliki generasi muda agar mampu bertahan dan berperan aktif dalam era digital. 

Literasi digital saat ini tidak lagi bersifat pelengkap, melainkan menjadi keterampilan dasar yang setara dengan kemampuan membaca dan menulis. Penguasaan teknologi informasi, pemrograman, analisis data, serta pemahaman terhadap kecerdasan buatan menjadi bekal penting untuk mengakses peluang ekonomi di tingkat global. 

World Economic Forum memproyeksikan bahwa sebagian besar pekerjaan di masa depan akan menuntut keterampilan teknologi tingkat tinggi yang bahkan belum sepenuhnya ada saat ini. Negara yang berhasil menyiapkan generasi dengan literasi digital yang baik akan memiliki keunggulan dalam persaingan global, sementara negara yang tidak siap berisiko tertinggal. Dengan bonus demografi yang dimiliki, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi kekuatan ekonomi digital, namun potensi tersebut hanya dapat diwujudkan apabila generasi muda dibekali kompetensi teknologi yang memadai melalui sistem pendidikan yang adaptif terhadap perubahan zaman.

Di sisi lain, kemajuan teknologi yang tidak disertai dengan kematangan moral justru dapat menimbulkan berbagai persoalan kemanusiaan. Fenomena seperti penyebaran hoaks, perundungan siber, kecanduan media sosial, dan kejahatan digital menunjukkan dampak negatif dari perkembangan teknologi. 

Kasus kebocoran data pribadi, manipulasi opini publik melalui algoritma, serta eksploitasi anak di ruang digital menjadi bukti bahwa kecanggihan teknologi tanpa dasar etika dapat berubah menjadi ancaman serius. Di Indonesia, maraknya hoaks, ujaran kebencian, dan penipuan daring memperlihatkan bagaimana teknologi dapat disalahgunakan ketika kesadaran moral tidak tertanam dengan kuat. 

Oleh karena itu, akhlak mulia bukan sekadar pelengkap, melainkan menjadi landasan utama dalam menentukan arah pemanfaatan teknologi, apakah untuk kebaikan atau justru menimbulkan kerusakan.

Akhlak mulia dalam konteks generasi berbasis teknologi mencakup berbagai nilai yang perlu ditanamkan sejak dini. Integritas digital menuntut kejujuran dalam berinteraksi di ruang maya, tidak menyebarkan informasi palsu, serta menghargai hak kekayaan intelektual. 

Empati digital mengajarkan pentingnya mempertimbangkan dampak ucapan dan tindakan di media sosial terhadap orang lain. Tanggung jawab digital menekankan kesadaran bahwa setiap aktivitas di dunia maya meninggalkan jejak dengan konsekuensi jangka panjang. 

Selain itu, etika dalam pengelolaan data pribadi, kesadaran akan privasi, serta kebijaksanaan dalam menggunakan teknologi merupakan bagian penting dari akhlak mulia di era digital. 

Nilai-nilai luhur bangsa Indonesia, seperti gotong royong, toleransi, dan kebhinekaan, perlu diterapkan dalam ruang digital agar tercipta lingkungan maya yang sehat dan bermartabat.

Pendidikan memiliki peran strategis dalam membentuk generasi yang seimbang antara kecakapan teknologi dan karakter moral. Sistem pendidikan perlu bertransformasi dari pendekatan konvensional yang memisahkan pembelajaran teknis dan pendidikan karakter menjadi model yang terintegrasi secara menyeluruh. Kurikulum harus dirancang agar penguasaan teknologi selalu disertai dengan pemahaman etis. Misalnya, pembelajaran kecerdasan buatan perlu diikuti dengan diskusi mengenai bias algoritma dan dampak sosial otomatisasi, sementara pembelajaran media sosial perlu membahas risiko adiksi dan tanggung jawab dalam mengelola konten. Pembelajaran berbasis proyek yang mengaitkan teknologi dengan penyelesaian masalah sosial terbukti efektif dalam mengembangkan kompetensi sekaligus karakter. 

Melalui proyek seperti pengembangan aplikasi bagi penyandang disabilitas, sistem informasi untuk petani, atau platform pendidikan bagi daerah terpencil, peserta didik tidak hanya meningkatkan keterampilan teknis, tetapi juga menumbuhkan empati dan kepedulian sosial.

Selain pendidikan formal, keluarga sebagai lingkungan pendidikan pertama memiliki peran penting dalam menanamkan nilai moral di tengah pesatnya perkembangan teknologi. Orang tua perlu menjadi teladan dalam penggunaan teknologi yang sehat dan bertanggung jawab, membimbing anak dalam menyeimbangkan kehidupan digital dan nyata, serta membuka ruang diskusi mengenai persoalan etika di dunia maya. 

Komunitas, lembaga keagamaan, dan organisasi sosial juga diharapkan berkontribusi dalam memberikan pendampingan moral bagi generasi muda, sehingga tercipta ekosistem yang mendukung pembentukan karakter yang kuat di tengah arus perubahan teknologi yang cepat.

Dengan demikian, generasi teknologi yang berdaya saing dan berakhlak mulia bukanlah sekadar cita-cita ideal, melainkan kebutuhan mendesak. Hanya dengan mengintegrasikan kecerdasan teknologi dan nilai-nilai moral, generasi masa depan dapat memastikan bahwa kemajuan peradaban digital berjalan menuju arah yang lebih adil, sejahtera, dan berperikemanusiaan.

Post a Comment

0 Comments


SELAMAT DATANG DI SEMOGA ANDA PUAS