Oleh: Wella Rastiyan NIM: 2505011028
PROGRAM STUDI S1 MANAJEMEN. FAKULTAS HUKUM DAN EKONOMI BISNIS UNIVERSITAS DHARMAS INDONESIA
Dosen Pengampu: Dr. Amar Salahudin, M.Pd.
Fenomena ketakutan akan kegagalan semakin sering ditemui di kalangan anak muda saat ini. Banyak dari mereka merasa ragu untuk melangkah, takut mengambil keputusan, dan cenderung memilih jalan aman meskipun tidak sesuai dengan keinginan diri sendiri. Kegagalan seolah menjadi sesuatu yang harus dihindari dengan segala cara, bahkan sebelum usaha benar-benar dilakukan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa ketakutan gagal telah menjadi persoalan sosial yang nyata di tengah masyarakat.
Ketakutan gagal pada anak muda bukanlah tanda kelemahan mental, melainkan hasil dari tekanan yang datang dari berbagai arah.
Anak muda hidup dalam lingkungan yang menuntut keberhasilan secara cepat dan nyata. Kesalahan kecil sering kali dibesar-besarkan, sementara proses belajar jarang dihargai.
Akibatnya, kegagalan tidak lagi dipandang sebagai bagian dari proses berkembang, melainkan sebagai bukti ketidakmampuan.
Tekanan pertama sering datang dari lingkungan keluarga. Banyak anak muda dibesarkan dengan harapan untuk menjadi sukses dalam waktu singkat. Perbandingan dengan saudara, teman, atau anak orang lain kerap terjadi, baik secara langsung maupun tidak langsung. Kalimat seperti “seharusnya di usia ini sudah berhasil” atau “lihat temanmu sudah lebih dulu sukses” dapat menimbulkan beban psikologis yang besar. Tanpa disadari, tekanan tersebut membuat anak muda merasa bahwa kegalalan adalah sesuatu yang memalukan.
Selain keluarga, media sosial juga memiliki peran besar dalam membentuk ketakutan akan kegagalan.
Media sosial sering menampilkan potret kesuksesan tanpa memperlihatkan sukses dan kegagalan dibaliknya.
Anak muda disuguhkan dengan pencapaian orang lain yang tampak sempurna, seperti karier yang mapan di usia muda atau kehidupan yang terlihat ideal.
Hal ini meciptakan standar kehidupan yang tidak realistis dan membuat kegagalan terasa seperti ketinggalan.
Tekanan sosial tersebut berdampak pada cara anak muda mengambil keputusan.
Banyak yang menjadi terlalu berhati-hati, takut mencoba hal baru, dan terus menerus meragukan pilihan sendiri.
Rasa takut gagal dapat berkembang menjadi overthinking, kecemasan, bahkan kelelahan mental. Ironisnya, sebagian anak muda sudah merasa lelah dan putus asa padahal perjalan hidup baru saja dimulai.
Dalam kehidupan sehari-hari, fenomena ini dapat dilihat dari banyaknya anak muda yang memilih jalur hidup yang dianggap aman meskipun tidak sesuai dengan minat dan potensi mereka. Ada pula yang menunda langkah karena takut salah memilih, hingga akhirnya kehilangan kesempatan untuk berkembang.
Padahal, kegagalan merupakan bagian alami dari proses belajar pertumbuhan seseorang.
Pada akhirnya, kegagalan seharusnya tidak dipandang sebagai akhir dari segalanya. Yang perlu diubah adalah cara masyarakat memaknai kesuksesan dan kegagalan.
Anak muda membutuhkan ruang untuk mencoba, salah, dan belajar tanpa terus dibayangi rasa takut akan penilaian negatif. Kegagalan bukanlah tanda kelemahan, melainkan bagian penting dari perjalanan menuju kedewasaan dan keberhasilan yang lebih bermakna.
Ketakutan anak muda terhadap kegagalan bukanlah cerminan dari lemahnya mental atau kurangnya kemampuan, melainkan akibat dari tekanan sosial yang terus-menerus, baik dari lingkungan keluarga, masyarakat, maupun media sosial, yang membentuk standar kesuksesan sempit dan tidak realistis.
Oleh karna itu, kegagalan seharusnya dipahami sebagai bagian wajar dari proses pembelajaran dan pendewasaan, bukan sebagai aib atau tanda atau ketidakberhasilan seseorang dalam menjalani hidup.


































0 Comments