Ticker

6/recent/ticker-posts

Bidan di Garda Terdepan Menjaga Kehidupan dari Sentuhan Pertama


Oleh : Gusvelia Putri.                                      Nim : 2501041033

 PROGRAM STUDI S1 KEBIDANAN. FAKULTAS ILMU KESEHATAN.   UNIVERSITAS DHARMAS INDONESIA TAHUN 2026

Dosen Pengampu : Dr. Amar Salahuddin, M.Pd


Kebidanan bukan sekadar profesi kesehatan, melainkan panggilan kemanusiaan yang berperan besar dalam menentukan kualitas generasi masa depan. Sejak awal kehidupan seorang manusia—bahkan sebelum ia lahir—bidan hadir sebagai pendamping, pelindung, sekaligus pendidik bagi ibu dan keluarga. Namun, di tengah pesatnya perkembangan teknologi medis dan tuntutan sistem pelayanan kesehatan modern, peran bidan sering kali masih dipandang sebelah mata.

 

Padahal, bidan merupakan garda terdepan dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak, terutama di tingkat pelayanan dasar. Di banyak daerah, khususnya wilayah terpencil, bidan bahkan menjadi satu-satunya tenaga kesehatan yang dapat diandalkan. Mereka tidak hanya menangani proses kehamilan dan persalinan, tetapi juga memberikan edukasi tentang kesehatan reproduksi, perencanaan keluarga, hingga pemantauan tumbuh kembang anak. Peran ini jelas tidak sederhana dan membutuhkan kompetensi, empati, serta tanggung jawab yang besar.

 

Tantangan kebidanan di Indonesia masih cukup kompleks. Angka kematian ibu dan bayi, meskipun mengalami penurunan, tetap menjadi pekerjaan rumah bersama. Salah satu faktor utamanya adalah kurangnya akses dan kualitas pelayanan kesehatan yang merata. Dalam konteks ini, bidan memiliki posisi strategis untuk menjembatani kesenjangan tersebut. Dengan pendekatan yang humanis dan berbasis komunitas, bidan mampu membangun kepercayaan masyarakat, khususnya ibu hamil, untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang aman dan berkelanjutan.

 

Di sisi lain, perkembangan teknologi dan digitalisasi layanan kesehatan menuntut bidan untuk terus beradaptasi. Penggunaan aplikasi kesehatan ibu dan anak, pencatatan digital, serta edukasi berbasis media sosial menjadi tantangan sekaligus peluang. Bidan masa kini tidak cukup hanya terampil secara klinis, tetapi juga harus melek teknologi dan komunikatif. Hal ini penting agar pesan-pesan kesehatan dapat tersampaikan secara efektif, terutama kepada generasi muda yang akrab dengan dunia digital.

 

Peran bidan juga tidak terlepas dari nilai empati dan komunikasi yang kuat. Dalam proses persalinan, bidan sering kali menjadi figur paling dekat dengan ibu, baik secara fisik maupun emosional. Sentuhan, kata-kata penguat, dan sikap tenang seorang bidan dapat memberikan rasa aman yang tidak tergantikan oleh alat medis secanggih apa pun. Inilah sisi kebidanan yang menegaskan bahwa profesi ini adalah perpaduan antara ilmu pengetahuan dan nilai kemanusiaan.

 

Bagi mahasiswa kebidanan, memahami makna profesi bidan sejak dini menjadi hal yang sangat penting. Pendidikan kebidanan seharusnya tidak hanya berfokus pada keterampilan teknis, tetapi juga pada pembentukan karakter, etika, dan kepedulian sosial. Mahasiswa kebidanan adalah calon bidan masa depan yang akan menghadapi dinamika masyarakat yang terus berubah. Oleh karena itu, kesiapan mental dan profesional harus dibangun sejak bangku perkuliahan.

 

Pada akhirnya, kebidanan adalah tentang menjaga kehidupan sejak awalnya. Menguatkan peran bidan berarti berinvestasi pada masa depan bangsa. Sudah sepatutnya profesi bidan mendapat pengakuan, dukungan, dan penghargaan yang layak—bukan hanya sebagai tenaga kesehatan, tetapi sebagai penjaga awal kehidupan manusia.

Post a Comment

1 Comments


SELAMAT DATANG DI SEMOGA ANDA PUAS