Padang, (1/12) - Perkembangan harga di Sumatera Barat secara umum pada bulan November 2025 mengalami penurunan sebesar 0,24 persen dibanding bulan sebelumnya. Secara tahun kalender (y-to-d), Januari sampai dengan November 2025 terjadi inflasi sebesar 3,62 persen. Secara tahunan (y-on-y), November 2025 dibanding November 2024 terjadi inflasi sebesar 3,98 persen.
Kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi penghambat utama terjadinya inflasi, yang mengalami penurunan harga sebesar 0,90 persen dengan andil deflasi sebesar 0,30 persen. Beberapa komoditas yang dominan mendorong terjadinya deflasi/penurunan harga beserta andilnya pada kelompok pengeluaran ini antara lain lain cabai merah (deflasi 9,96 persen, andil -0,32 persen), jengkol (deflasi 17,99 persen, andil -0,03 persen), kentang (deflasi 8,87 persen, andil -0,03 persen), cabai hijau (deflasi 20,79 persen, andil -0,03 persen), dan cabai rawit (deflasi 10,21 persen, andil -0,02 persen). Di sisi lain beberapa komoditas yang mendorong terjadinya inflasi atau komoditas yang mengalami kenaikan pada kelompok ini antara lain adalah bawang merah, beras, daging ayam ras, ikan tongkol/ikan ambu-ambu, dan emas perhiasan.
Selain kelompok makanan, minuman dan tembakau, kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan juga mengalami deflasi. Sementara itu, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga, kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga, kelompok kesehatan, kelompok transportasi, kelompok rekreasi, olahraga dan budaya kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran, dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami inflasi.
Semua kabupaten/kota IHK di Sumatera Barat mengalami deflasi m-to-m. Deflasi tertinggi terjadi di Pasaman Barat sebesar 0,81 persen, diikuti Dharmasraya (0,49 persen), Bukittinggi (0,46 persen) dan Padang (0,02 persen). Inflasi y-to-d tertinggi terjadi di Pasaman Barat sebesar 4,52 persen, diikuti Bukittinggi (3,61 persen), Dharmasraya (3,40 persen) dan Padang (3,38 persen). Inflasi y-on-y tertinggi terjadi Pasaman Barat (5,28 persen), diikuti Bukittinggi (3,96 persen), Dharmasraya (3,70 persen), dan Padang (3,65 persen).
Nilai Tukar Petani Sumatera Barat, November 2025 Capai 125,75
NTP Sumatera Barat pada November 2025 sebesar 125,75 mengalami penurunan sebesar 0,49 persen dibanding bulan sebelumnya. Penurunan NTP ini disebabkan penurunan harga hasil produksi petani sebesar 1,15 persen lebih tinggi dibandingkan penurunan harga untuk kebutuhan konsumsi maupun biaya produksi dan penambahan barang modal sebesar 0,67 persen. Penurunan NTP secara umum ini disebabkan penurunan NTP pada subsektor hortikultura, dan subsektor tanaman perkebunan rakyat. Sementara itu NTP subsektor tanaman pangan subsektor peternakan dan perikanan yang mengalami peningkatan.
Nilai Tukar Usaha Petani (NTUP) Sumatera Barat pada November 2025 sebesar 130,64 mengalami penurunan sebesar 0,31 persen. Hal ini disebabkan penurunan harga hasil produksi petani (1,15 persen) lebih tinggi dibandingkan penurunan harga pada penambahan barang modal (0,84 persen).
Perkembangan harga konsumen pada rumah tangga tani yang digambarkan oleh perubahan Indeks Konsumsi Rumah tangga Tani di Sumatera Barat pada November 2025 menurun sebesar 0,67 persen yang disebabkan oleh penurunan pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 1,24 persen. Selain itu, delapan kelompok lainnya mengalami peningkatan, yaitu kelompok pakaian dan alas kaki (0,40 persen); kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga (0,04 persen); kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga (0,20 persen); kelompok kesehatan (0,12 persen); kelompok transportasi (0,09 persen); kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan (0,09 persen); kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya (0,07 persen); dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya (0,87 persen). Sementara itu, dua kelompok lainnya relatif tidak mengalami perubahan, yaitu kelompok pendidikan dan kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran.





No comments:
Post a Comment