Ticker

6/recent/ticker-posts

MAKALAH ENTOMOLOGI FORENSIK PEMANFAATAN ILMU FISIOLOGI DALAM OLAHRAGA


Oleh  

Ramadhana Marqfirokh

2010421014


Dosen Pengampu : Dr. Resti Rahayu


PROGRAM STUDI BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS ANDALAS

2024


 

KATA PENGANTAR


Puji dan rasa syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik dan sekaligus dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya.

Dalam penyusunan makalah ini penulis menyadari bahwa masih banyak terdapat kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan saran, masukan, maupun kritik yang membangun untuk penyempurnaan makalah ini. Besar harapan penulis agar makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.


 


Penulis


Ramadhana Marqfirokh








DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR i

DAFTAR ISI ii

DAFTAR GAMBAR iii

BAB I. PENDAHLUAN 1

A. Latar Belakang 1

B. Tujuan 2

BAB II. PEMBAHASAN 3

A. Implementasi Sistem Kardiovaskuler 3

B. Implementasi Lingkungan Panas 5

1. Kejang panas (Heat cramps) 5

2. Pingsan panas (Heat syncope) 5

3. Kelelahan panas (Heat exhaustion) 6

4. Kegawatan panas (Heat stroke) 6

BAB III. PENUTUP 9

A. Kesimpulan 9

DAFTAR PUSTAKA 10






DAFTAR GAMBAR


Gambar 1. Jam tangan dan chest band pendeteksi denyut nadi 4

Gambar 2. Penggunaan cooling gloves pada pergelangan tangan 7

Gambar 3. Botol pendeteksi dehidrasi untuk atlet dan software record data dehidrasi pada ipad 7

















 

BAB I. PENDAHLUAN


A. Latar Belakang

Fiologi atau ilmu faal adalah salah satu dari cabang-cabang biologi yang mempelajari berlangsungnya sistem kehidupan. Istilah fisiologi berasal dari kata dalam bahasa Yunani yaitu physis dan logos yang berarti alam dan cerita. Metode ilmiah yang digunakan dalam fisiologi bertujuan untuk mempelajari fungsi fisika dan kimia dari biomolekul, sel, jaringan, organ, sistem organ, dan organisme secara keseluruhan. Istilah “fisiologi” dipinjam dari bahasa belanda, physiologie, yang dibentuk dari dua kata Yunani kuno : physis, berarti “asal usul” atau “hakikat” dan logia yang berarti “kajian”. Istilah faal diambil dari bahasa arab, berarti “pertanda”, “fungsi”, “kerja”. 

Fisiologi olahraga yang merupakan cabang dari fisiologi dan bagaia dari sport scince, yang mempelajari respon tubuh terhadap olahraga dan bagaimana tubuh beradaptasi (menyesuaikan diri) terhadap olahraga dari waktu kewaktu. Karena itu fisiologi olahraga sangat dibutuhkan untuk mengelola olahraga, dan mengkondisikan potensi stressor olahraga, menjadi stimulator yang menguntungkan fisiologi tubuh. Sehingga dapat mengkondisikan perilaku respon neurohormonal pada limbic system terhadap Hypothalamic-Pituitary-Adrenal axis (HPA axis), untuk conditioning stimuli pada alur limbic-hipothalamic-pituitary-adrenal axis (LHPA). Kemudian menimbulkan perilaku motoric dan hormonal yang menyebabkan mekanisme umpan balik pada sistem saraf pusat melalui somatosensorik, mengubah aktivitas HPA-axis dan SAM-axis. 

Olahraga tidak dapat dilepaskan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Untuk mencapai prestasi puncak maka diperlukan dukungan berbagai bidang dan disiplin ilmu yang mampu menyokong prestasi tersebut. Dalam teori dan metodologi latihan terlibat beragam bidang ilmu yang saling mendukung dan melengkapi satu sama lain. Bidang ilmu tersebut meliputi: (1) anatomi; (2) fisiologi olahraga; (3) biomekanik; (4) statistik; (5) tes dan pengukuran; (6) kesehatan olahraga; (7) psikologi; (8) belajar motorik; (9) pedagogi olahraga; (10) ilmu gizi; (11) sejarah olahraga dan juga (12) sosiologi olahraga (Bompa, 2006). Selain itu, kualitas pelatihan dalam olahraga prestasi sangat dipengaruhi oleh beragam faktor yang juga saling mendukung dan melengkapi satu sama lainnya. Faktor-faktor tersebut meliputi: (1) atlet; (2) pengetahuan dan kepribadian pelatih; (3) Sarana dan prasarana olahraga; (4) iklim kompetisi dan juga ilmu pengetahuan yang menunjang olahraga prestasi (Bompa, 1999). Apabila keseluruhan faktor-faktor terse-but optimal maka niscaya berpengaruh signify-kan pada performa dan prestasi atlet.

Hal ini dikaitkan dengan ilmu penunjang dalam teori dan metodologi kepelatihan, khususnya pada bidang ilmu fisiologi olahraga, maka sangat mungkin prinsip-prinsip yang ada pada fisiologi olahraga tidak berjalan secara optimal pada proses pelatihan olahraga. Padahal telah diketahui sebelumnya bahwa tanpa menggunakan ilmu pengetahuan maka proses pelatihan olahraga tidak akan mencapai kualitas pelatihan yang tinggi, pastinya hal ini akan berdampak pada performa dan prestasi atlet yang dibinanya. Oleh sebab itu, cara sederhana agar fisiologi olahraga dapat diterapkan pada proses pelatihan olahraga yaitu dengan menunjukkan penerapan ringkas dan sederhana fisiologi olahraga.

B. Tujuan

Tujuan dari makalah ini dibuat ialah untuk mengetahui pemanfaatan ilmu fisiologi dalam bidang fisiologi olahraga.








BAB II. PEMBAHASAN


A. Implementasi Sistem Kardiovaskuler 

Istilah kardiovaskuler berasal dari gabungan antara kata kardio dan vaskuler. Kardio adalah nama lain jantung, sedangkan vaskuler merupakan istilah lain tentang pembuluh darah. Sistem kardiovaskuler dapat diartikan sebagai sistem peredaran darah dengan jantung bekerja sebagai pompa dengan mengalirkan darah ke seluruh bagian tubuh melalui pembuluh darah. Jadi terdapat tiga unsur dalam sistem peredaran darah yaitu jantung, darah dan pembuluh darah. 

Saat pelaksanaan aktivitas olahraga maka terjadi respon fisiologis yang dilakukan oleh sistem kardiovaskuler. Salah satu respon yang dilakukan jantung yaitu dengan meningkatkan denyut jantung. Dengan adanya peningkatan denyut jantung maka jumlah darah yang didis-tribusikan menjadi lebih cepat diterima oleh anggota tubuh. Hal ini penting dilakukan untuk menghantarkan oksigen dan sari makanan pada sel, membawa panas untuk dibawa dan dilepas melalui permukaan kulit serta melepaskan kar-bondioksida sebagai hasil sisa metabolisme. Sedangkan pembuluh darah melakukan respon dengan melakukan proses vasodilatasi pada otot yang aktif atau melebarkan pembuluh darah sehingga dengan semakin lebar pembuluh darah maka semakin banyak pula jumlah darah yang dapat mengalir secara cepat melewati pembuluh darah. 

Intensitas latihan olahraga sangat berkaitan erat dengan sistem kardiovaskuler. Intensitas latihan olahraga dapat diartikan sebagai tingkat ringan atau beratnya aktivitas olahraga yang dilakukan. Tingkat intensitas latihan berbanding lurus dengan kerja sistem kardiovaskuler. Saat intensitas latihan rendah maka jantung akan berdetak lebih lambat, namun pada olahraga dengan intensitas lebih tinggi maka jantung akan berdetak lebih cepat. implementasi sistem kardiovaskuler secara sederhana yang dapat dilakukan oleh para praktisi olahraga sebagai bentuk praktek nyata fisiologi olahraga yaitu dengan melakukan pengukuran denyut nadi secara rutin. Pengukuran denyut nadi ini meliputi pengukuran denyut nadi basal, istirahat, latihan dan pemulihan. 

Pengukuran denyut nadi basal dilakukan pada waktu pagi hari saat atlet baru bangun tidur. Pengukuran denyut nadi istirahat dihitung saat atlet dalam posisi santai atau duduk tanpa melakukan aktivitas yang berarti. Denyut nadi latihan diukur saat atlet sedang melakukan aktivitas olahraga khususnya pada fase inti. Sedangkan denyut nadi pemulihan dihitung saat atlet selesai melakukan latihan inti. 

Pengukuran denyut nadi dilakukan secara rutin dengan tujuan untuk mengetahui update kinerja sistem kardiovaskuler pada atlet tersebut. Atlet yang terlatih dengan baik tentu akan memiliki kinerja jantung yang sangat optimal Secara umum hal ini ditandai dengan rendahnya denyut nadi istirahat serta denyut nadi pemulihan yang mudah kembali turun berada di bawah angka 100 setelah melakukan latihan inti yang berat. Untuk selalu mengetahui update denyut nadi tersebut maka praktisi olahraga sebaiknya mempraktekkan pengukuran denyut nadi secara rutin.

Cara yang dapat dilakukan oleh praktisi olahraga untuk mengukur denyut nadi adalah dengan menggunakan alat pengukur denyut nadi. Biasanya alat ini berbentuk jam tangan yang dilengkapi dengan chest band, ataupun gelang pendeteksi denyut nadi. Pengukuran denyut nadi dengan metode ini memang lebih praktis sebab para praktisi olahraga tidak perlu melakukan pengukuran denyut nadi secara langsung. Secara otomatis hasil pengukuran denyut nadi akan muncul pada layar monitor pada jam atau gelang tangan. 



 

Gambar 1. Jam tangan dan chest band pendeteksi denyut nadi

(Sumber: www.fitnessdigital.fr, 2014)

Kelebihan dari alat pengukuran ini adalah hasil pengukuran yang cepat dan akurat. Namun dibutuhkan investasi pembelian yang cukup mahal. Alat pendeteksi denyut nadi seperti gambar di atas telah banyak digunakan sebagai salah satu alat bantu tes dan pengukuran olahraga untuk mengetahui update denyut nadi istirahat, latihan serta pemulihan seorang atlet.

B. Implementasi Lingkungan Panas

Pada pelaksanaan aktivitas olahraga maka terdapat perubahan pada sistem fisiologis tubuh manusia. Perubahan tersebut terjadi pada sistem kerja kardiovaskuler, sistem pernafasan, sistem kerja otot dan mekanisme pembuangan panas. Saat aktivitas olahraga dilaksanakan maka terjadi perubahan metabolisme tubuh meningkat hingga 20 kali lipat dibanding aktivitas normal. Contoh perubahan pada sistem otot yaitu ambilan glukosa dari darah oleh otot rangka yang sedang berkontraksi dapat mening-kat 30-40 kali, yaitu dari 0.1 mmol/men pada waktu istirahat menjadi 3-4 mmol/men, tergantung pada intensitas dan durasi latihannya (Katz et al 1986, Wahren 1977 dalam Giriwijoyo, 2007).

Menurut Giriwijoyo (2007) disebutkan bahwa cedera yang diakibatkan oleh lingkungan panas dapat dibagi menjadi empat, yaitu: 

1. Kejang panas (Heat cramps) 

Heat cramps atau kejang panas yaitu cedera dengan level paling ringan serta banyak terjadi pada lingkungan yang panas akibat suhu lingkungan dan kelembaban udara yang tinggi. Kejang panas seringkali terjadi pada kelompok otot besar seperti quadriceps dan hamstring (Gatorade, 2014). Hal ini ditandai dengan rasa kaku dan sulit untuk digerakkan pada kelompok besar yang aktif. Pada umumnya kejang panas diakibatkan karena kekurangan garam yang hilang bersama banyaknya keringat yang dikeluarkan oleh tubuh. Selain karena kekurangan garam, kejang otot sering terjadi akibat kadar kalium yang rendah dalam tubuh (Mirkin dan Hoffman, 1984). 

2. Pingsan panas (Heat syncope) 

Tingkat cedera yang lebih berat dari kejang panas yaitu pingsan panas. Heat syncope merupakan kejadian seseorang kehilangan kesadaran untuk sementara waktu akibat stress lingkungan panas yang berat. Hal ini terjadi karena banyaknya penimbunan darah di vena-vena yang menyebabkan gangguan pada sirkulasi (Giriwijoyo, 2007). Penanggulangan pingsan akibat lingkungan panas yaitu dengan membaringkan atlet pada ruangan yang sejuk dan dingin, meninggikan kakinya dengan ketinggian lebih tinggi dari posisi kepala serta memberikannya minum saat atlet tersebut siuman. 

3. Kelelahan panas (Heat exhaustion) 

Heat exhaustion merupakan tingkat cedera panas yang lebih tinggi daripada pingsan panas. Pada tahap ini atlet mengalami gangguan fisik seperti sakit kepala, mual, suhu tubuh meningkat dan denyut nadi berdetak lebih cepat. Kelelahan panas apabila diabaikan maka dapat meningkat pada tahap yang paling berat, yaitu kegawatan panas. Untuk mencegah terjadinya kejadian kegawatan panas maka atlet perlu diberikan cairan intravena dan kompres dingin pada seluruh tubuhnya. 

4. Kegawatan panas (Heat stroke) 

Kegawatan panas merupakan kelanjutan kejadian dari kelelahan panas. Cedera panas ini merupakan jenis cedera yang sangat berbahaya sebab dapat menyebabkan kematian pada atlet. Salah satu contoh atlet yang meninggal dunia akibat heat stroke adalah Korey Stringer. Atlet Americanfootball tersebut meninggal akibat suhu inti tubuhnya mencapai 420 celcius (Kusnanik, 2011).

penggunaan cooling gloves pada dunia olahraga. Sarung tangan pendingin ini telah terbukti mampu menurunkan suhu tubuh dan mempercepat fase pemulihan tubuh. Penelitian yang dilakukan olah peneliti universitas Stanford Amerika Serikat menunjuk-kan bahwa cooling gloves mampu bekerja lebih baik dari steroid (McClurre, 2012).

 


Gambar 2. Penggunaan cooling gloves pada pergelangan tangan

(Sumber: ww.gizmas.com, 2014)


Teknologi untuk mencegah terjadinya dehidrasi pada atlet telah dikembangan dengan baik oleh produsen minuman olahraga Gatorade. Dengan bekerjasama dengan tim sepakbola putra Brazil pada piala dunia 2014, Gatorade melakukan penelitian selama dua tahun untuk menemukan teknologi sensor pendeteksi seberapa banyak atlet minum cairan yang dikoneksikan melalui jaringan internet yang terhubung dengan program komputer.

   


Gambar 3. Botol pendeteksi dehidrasi untuk atlet dan software record data dehidrasi pada ipad

(Sumber: www.4.bp.blogspot.com dan 1.bp.blogspot.com)



Dengan adanya teknologi ini, pelatih dan staff pelatih tim Brazil selalu mengetahui kondisi cairan tubuh pada para atletnya sehingga mengurangi resiko dehidrasi yang dapat menurunkan performa olahraga. Pada suhu dan kelembaban udara yang tinggi maka pada saat pergerakan olahraga, atlet akan banyak menge-luarkan keringat sebagai upaya untuk mencapai homeostasis. Dengan semakin banyak keringat yang dikeluarkan oleh tubuh maka semakin banyak pula cairan tubuh yang hilang. Bila semakin banyak cairan tubuh yang hilang maka semakin besar resiko terjadi dehidrasi. Apabila terjadi dehidrasi maka atlet akan mengalami penurunan konsentrasi yang berdampak pada performa olahraga di lapangan. Oleh sebab itu, dengan adanya teknologi yang mampu mende-teksi resiko dehidrasi saat olahraga pada ling-kungan dengan suhu dan kelembaban udara yang tinggi maka performa olahraga atlet dapat dijaga dengan baik sebagai upaya untuk meraih prestasi optimal.

















BAB III. PENUTUP


A. Kesimpulan

Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan pemanfaatan ilmu fisiologi dalam fisiologi olahraga ialah implementasi pada sistem kardiovaskular yaitu pada penggunaan jam tangan dan chest band pendeteksi denyut nadi dan implementasi lingkungan panas yaitu pada penggunaan cooling gloves dan botol pendeteksi dehidrasi.















DAFTAR PUSTAKA


Bompa, T.O. (1999). Periodization, Theory and Methodology of Training. University Human Kinetic. New York.

Bompa, T.O & Haff, G.G. 2006. Periodization, Theory and Methodology of Training. University Human Kinetic. New York 


Gatorade, (2014). Beat the Heat Safety Kit. US. 


Giriwijoyo, HYS. (2007). Ilmu Faal Olahraga (fungsi tubuh manusia pada olahraga). Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung 


Giriwijoyo, HYS., & Sidik, DZ. (2012). Ilmu Faal Olahraga (Fisiologi Olahraga). PT Remaja Rosdakarya. Bandung

Kusnanik, NW dkk. (2011). Fisiologi Olahraga. Unesa University Press. Surabaya


Post a Comment

0 Comments


SELAMAT DATANG DI SEMOGA ANDA PUAS