Ticker

6/recent/ticker-posts

Lele misterius sebagai pembunuh kanker? mari kita budidaya



Oleh : Afif Hamdani mahasiswa universitas Andalas 

Siapa yang tidak tahu dengan lele? Merupakan salah satu jenis ikan yang sering dibudidaya oleh para peternak di seluruh indonesia. Tidak hanya itu, ikan lele juga merupakan salah satu komoditas unggul di pasaran untuk diperjualbelikan. Baik dijual dalam bentuk mentah ataupun dalam bentuk olahan makanan, salah satu bahan makanan dari ikan lele ialah pecel lele.

Di indonesia, kita memiliki wilayah dengan ribuan pulau dan perairan yang sangat luas sehingga keanekaragaan hayati di indonesia dapat di akui oleh warga negara lain akan kayanya budaya dan keanekaragaman kita. Namun, hingga saat ini hanya sebahagian kecil dari keanekaragaman kita yang luas yang telah dimanfaatkan dengan baik atau memiliki kerugian kecil yang ditimbulkan selama pemanfaatan keanekaragaman tersebut.

Seperti pada uraian diatas, pemanfaatan ikan lele menjadi suatu nilai kebutuhan makanan dan ekonomi yang unggul dipasaran, akan tetapi terdapat salah satu permasalahan yang muncul selama proses pengolahan ikan lele tersebut yaitu permasalahan dari limbah perikanan. Dalam hal ini, kita dapat mengambil data dari Kementrian kelautan dan perikanan (KKP) pada tahun 2021 produksi lele di Indonesia mencapai 1,06 juta ton dengan terdapatnya limbah perikanan mencapai 7,4% dari total produksi nya.

Adapun penyakit kanker, merupakan salah satu penyakit yang menyebabkan kematian hingga 70% bagi pengidapnya dan menjadi ancaman kesehatan manusia sejak 3600 tahun yang lalu. Pada tahun 2020 berdasarkan data WHO, terdapat sebanyak 80 juta kasus kanker dengan total kematian disebabkan oleh kanker sebanyak 22 juta kasus di seluruh dunia. Sehingga hal ini menjadi suatu permasalahan serius bagi masyarakat akan strategi untuk dapat mencari berbagai obat antikanker yang bisa mengobati kanker dengan baik tanpa harus di kemoterapi, radioterapi ataupun immunoterapi terhadap kanker yang dalam praktek ini telah banyak kerusakan pada tubuh kita sehingga salah satu akibat yang bisa kita rasakan pada tubuh kita ialah tubuh kita resisten obat atau obat yang dimasukkan di tubuh kita tidak dapat bekerja secara maksimal dan banyak efek samping lainnya dari terapi tersebut memiliki resiko yang tinggi.

Maka, dari pengetahuan kita terhadap hal tersebut, terdapat salah satu solusi dengan memanfaatkan limbah ikan lele sebagai kandidat antikanker yang banyak diternak atau diperjual belikan di pasaran. Kebanyakan ikan lele yang dilakukan untuk di budidaya ternak ialah ikan lele jawa atau dengan nama latin Clarias garipenus. Akan tetapi, terdapat salah satu jenis ikan lele lainnya yang hidup di habitat yang sama dengan jenis spesies berbeda yaitu spesies Clarias batrachus, namun ikan jenis ini komoditasnya tidak sebanyak Clarias garipenus yang diperjualbelikan dipasaran. Tapi, terdapat suatu hal manfaat yang menjadikan ikan lele dengan jenis Clarias batrachus memiliki keunggulan jika kita lakukan budidaya ternak ikan lele jenis tersebut karena ia potensi sebagai kandidat antikanker. Hal ini berdasarkan dari riset yang telah dilakukan oleh peneliti sebelumnya dengan memanfaatkan racun ikan lele tersebut yang mirip dengan racun pada ikan buntal yang dapat dimanfaatkan sebagai antikanker pada manusia. Serta, bagian tubuh dari Clarias batrachus dapat kita temui pada bagian patil atau duri penyengat pada tubuh lele tersebut terdapat racun dengan komponen berbagai senyawa bioaktif yang ternyata berdasarkan studi literatur serta riset yang telah dilakukan, ia memiliki potensi sebagai antikanker dari senyawa bioaktifnya.

Sehingga, dalam hal ini kita perlu melakukan pemudidayaan lele jenis Clarias batrachus agar bisa kita manfaatkan selain dari dagingnya, kita juga dapat memanfaatkan patil atau duri penyengat dari lele tersebut untuk dapat dimanfaatkan oleh bidang farmasi agar dapat membuat obat-obatan antikanker berbahan limbah perikanan yaitu patil dari ikan lele tersebut.

Daftar Rujukan

World Health Organization. (2020). Guidelines for anagement of Breast Cancer. Regional Office for the Eastern Mediterranean. Retrieved from www.who.ac.id at 20st December 2023

Kementrian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia. (2021). Data Rilis Kelautan dan Perikanan : Jakarta. Kementrian Kelautan dan Perikanan Subdit Penyakit Kanker.


Post a Comment

0 Comments


SELAMAT DATANG DI SEMOGA ANDA PUAS