Penulis: Fiki Zulfasani
Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Andalas
SIJUNJUNG — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Andalas Periode II merancang dan membangun rumah bibit berbahan dasar bambu di lahan kosong belakang Kantor Wali Nagari Pematang Panjang, Kecamatan Sijunjung, Kabupaten Sijunjung. Program yang berlangsung sepanjang masa KKN, 6 Juli hingga 18 Agustus 2026, ini digagas sebagai jawaban atas persoalan keterbatasan bibit tanaman berkualitas yang selama ini dihadapi petani dan warga, sekaligus memanfaatkan lahan yang selama bertahun-tahun tidak produktif.
Nagari Pematang Panjang dikenal sebagai kawasan agraris, dengan sebagian besar penduduknya menggantungkan penghidupan pada sektor pertanian. Meski demikian, ketersediaan bibit tanaman yang bermutu masih menjadi kendala tersendiri bagi petani di nagari ini. Ketiadaan sumber bibit yang stabil membuat warga kerap harus membeli bibit dari luar daerah dengan harga yang cenderung mahal, kondisi yang pada akhirnya turut menghambat produktivitas pertanian sekaligus upaya penghijauan lingkungan sekitar.
Berangkat dari persoalan tersebut, mahasiswa KKN Universitas Andalas melihat lahan kosong di belakang Kantor Wali Nagari sebagai peluang. Lahan yang terbengkalai dinilai berpotensi diubah menjadi pusat pembibitan yang dapat menopang kebutuhan bibit warga secara mandiri dan berkelanjutan, tanpa harus bergantung pada pasokan dari luar nagari.
Sebelum pembangunan dimulai, tim mahasiswa lebih dahulu melakukan survei dan pengamatan langsung ke lokasi bersama perangkat nagari. Dari hasil pengamatan, lahan tersebut dinilai cukup ideal untuk dijadikan tempat pembibitan karena mendapat paparan sinar matahari yang memadai dan berada tidak jauh dari sumber air. Meskipun kondisinya saat itu dipenuhi semak dan belum tertata, struktur tanah pada titik yang direncanakan sebagai lokasi bangunan dinilai cukup padat dan stabil untuk menopang konstruksi bambu. Karena itu, tidak diperlukan perlakuan tanah khusus sebelum pembangunan, cukup dengan pembersihan lahan dan penataan ulang titik pondasi.
Proses pembangunan rumah bibit dilakukan secara bertahap selama kurang lebih tiga minggu, dimulai dari pembersihan lahan, pengukuran, hingga pemasangan struktur bambu. Fiki Zulfasani, mahasiswa Jurusan Akuntansi Universitas Andalas yang menjadi penanggung jawab program ini, menjelaskan bahwa setiap tahapan dikerjakan dengan memperhatikan kekuatan dan kerapian struktur bangunan.
"Kami mulai dari survei lokasi dan koordinasi dengan Wali Nagari, lalu menyusun konsep dan ukuran rumah bibit sebelum membersihkan lahan. Setelah itu barulah kami masuk ke tahap konstruksi, mulai dari rangka dan tiang utama, pemasangan atap dan paranet, dinding serta pagar bambu, sampai pembuatan rak-rak tempat bibit disusun. Semua bahan utama, yaitu bambu, kami ambil dari lingkungan sekitar agar biayanya tetap terjangkau," jelas Fiki.
Bibit tanaman yang disemai dan dirawat di rumah bibit ini sebagian besar merupakan hasil kontribusi dari Balai Persemaian, yang digandeng mahasiswa KKN guna menyukseskan program. Setelah diterima, bibit tersebut akan dikelola dan dirawat di rumah bibit, sebelum akhirnya disalurkan kepada warga yang membutuhkan. Kolaborasi dengan Balai Persemaian ini dinilai penting agar ketersediaan bibit tetap terjaga secara berkelanjutan tanpa membebani anggaran program maupun warga.
Lebih dari sekadar menghadirkan bangunan pembibitan, program ini juga menyimpan harapan yang lebih besar, yakni menumbuhkan motivasi warga untuk turut membangun rumah bibit sederhana di pekarangan rumah masing-masing. Dengan melihat langsung bagaimana rumah bibit berbahan bambu ini dibangun dan dimanfaatkan, mahasiswa KKN berharap masyarakat dapat mencontoh dan mengadaptasinya dalam skala kecil, sehingga kebutuhan bibit tidak lagi bertumpu pada satu titik pembibitan saja, melainkan dapat tumbuh secara swadaya di tingkat rumah tangga.
Penyaluran bibit dari rumah bibit ini turut dijalankan selaras dengan program Nagari Pematang Panjang bertajuk “Satu Kelahiran Satu Bibit”, yang mendorong setiap kelahiran anak di nagari diiringi dengan penanaman satu bibit pohon. Melalui kolaborasi tersebut, bibit hasil pembibitan diprioritaskan bagi warga yang benar-benar membutuhkan, sekaligus memperkuat semangat penghijauan yang sebelumnya telah digagas oleh pemerintah nagari.
Sejak awal perencanaan, program pembangunan rumah bibit ini mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Nagari Pematang Panjang dan warga sekitar. Wali Nagari beserta perangkatnya memfasilitasi penggunaan lahan kosong di belakang kantor nagari, sementara warga ikut berperan dalam pengadaan bambu yang akan digunakan. Dukungan tersebut menjadi salah satu faktor utama yang membuat pembangunan berjalan lancar sesuai target waktu..
Dari total bibit yang disemai, sebagian akan dibagikan langsung kepada warga dan petani sesuai target yang telah ditetapkan. Sisanya tetap disimpan dan dirawat di rumah bibit sebagai stok pembibitan nagari. Mahasiswa KKN berharap keberadaan rumah bibit ini tidak berhenti fungsinya setelah masa KKN usai, melainkan terus dikelola oleh Pemerintah Nagari dan warga sebagai sarana pembibitan berkelanjutan, sejalan dengan semangat program "Satu Kelahiran Satu Bibit" yang digaungkan di Nagari Pematang Panjang
Kehadiran rumah bibit berbahan bambu ini menjadi bukti bahwa lahan yang sempat terabaikan tetap dapat dihidupkan kembali menjadi sesuatu yang bermanfaat, asalkan dikelola dengan kolaborasi yang tepat antara pemerintah nagari, masyarakat, dan mahasiswa. Dari sebidang lahan kosong di belakang Kantor Wali Nagari, tumbuh harapan baru bagi ketersediaan bibit yang berkelanjutan di Nagari Pematang Panjang.


"
/>



No comments:
Post a Comment