Ticker

6/recent/ticker-posts

Padi Masak Jaguang Maupiah Taranak Bakambang Biak-Hewan Ternak Perlu Diikat dan Dikandangkan Di Sijunjung





Sijunjung. 

Wali Nagari Sijunjung, Rajilis sosialisasikan kepada masyarakat pemilik hewan ternak supaya mau mengikat dan mengandangkan hewan ternak oleh pemiliknya supaya tercapai tujuan masyarakat petani dengan saling menguntungkan. 


Karena selama ini hewan ternak lepas bebas saja siang dan malam yang mengakibatkan pada pemilik lahan pertanian keberatan untuk berkebun jenis tanaman pangan. 


Ungkapan ini ditegaskan Wali Nagari Sijunjung Kecamatan Sijunjung Kabupaten Sijunjung, Rajilis mengemukakan pada awak media ini ketika dijumpai di kantornya pada Kamis 28 Maret 2024.


Menurut Wali Nagari Sijunjung, Rajilis terhadap rencana ini agar masyarakat pemilik hewan ternak supaya mau mengikat hewan ternak pada siang hari dan mengandangkan pada malam hari agar para petani pemilik kebun jenis tanaman pangan bisa pula aman dari bahaya serangan oleh hewan ternak yang lepas seperti sapi dan kerbau, katanya. 


"Dengan demikian, supaya tercapai dari tujuan semua petani pemilik lahan pertanian tanah basah dan tanah kering-seperti bak pepatah-padi masak jaguang maupiah taranak bakambang biak", ajaknya Wali Nagari Sijunjung. 


Lanjutnya, maksud ini agar pemilik lahan tanah basah dan tanah kering seperti lahan pertanian sawah dan ladang. 


Setelah selesai musim panen padi bagi pemilik lahan tanah basah atau 'panehaman' di negeri lansek manih ini berbulan bulan lamanya. 


"Pada umumnya sekira kurang dari seribu hektar sawah tadah hujan terdapat di Kenagarian Sijunjung", ulasnya lagi. 


Sehingga petani pemilik lahan sawah tadah hujan di sini tidak dapat mengolah tanah sawah disaat musim kemarau untuk menanam padi kecuali pada saat musim banyak curah hujan baru bisa turun ke sawah. 


Dan, disaat itu pula pada musim panehaman ini lahan sawah tadah hujan menjadi terlantar. 


"Disaat panehaman ini pula supaya pemilik lahan sawah tadah hujan ini dapat pula memanfaatkan areal pertaniannya untuk bercocok tanam jenis tanaman pangan seperti menanam jagung, cabe, kacangan, ketimun, semangka, terong, ubi jalar/ubi kayu, dan tanaman jenis sayuran lainya", katanya berharap demikian. 


Dengan demikian pula, petani ini dapat menghasilkan pada saat musim kemarau. 


"Sehingga hewan ternak yang dimiliki petani yang selama ini ternak lepas saja siang dan malam, maka kebiasaan itu yang perlu dirubah sekarang", jelasnya. 


Dikatakannya, malah rumput bila sedikit di pupuk lebih cepat subur, sehingga pemilik hewan ternak cukup memotong rumput saja untuk hewan ternak yang diikat dan dikandangkan. 


Karena selama ini pemilik hewan ternak juga tersita waktunya untuk 'kubalo' hewan ternak yang dimiliki oleh pemiliknya. 


"Nah, perubahan itu dialihkan dengan cara memelihara rumput di tanah basah mau pun di tanah kering, baik pada lahan tanah yang landai/datar, serta tanah yang dengan kemiringan", sebut Wali Nagari ini. 


Dengan cara demikian akan lebih memudahkan lagi cara berusaha hewan ternak bisa menanam rumput di bawah yang telah tinggi pohonnya seperti di kebun karet, sawit, kelapa dan jenis pada lahan tanaman 'tuo' lainnya. 


Karena memotong rumput untuk ternak cukup dengan waktu yang begitu singkat ketimbang 'kubalo' seharian. 


Sehingga pula Nagari Sijunjung bisa pula menjadi daerah penghasil jenis tanaman pangan dan sayuran selain dari jenis gabah seperti tanaman padi, harapnya. 


Dengan rencana seperti ini, sehingga lahan pertanian dapat di fungsikan untuk bercocok tanam jenis tanaman pangan. 


"Karena pemilik hewan ternak telah mengikat dan mengandangkan hewan ternak yang di miliki", pungkasnya.(Obral Chaniago).**

Post a Comment

0 Comments


SELAMAT DATANG DI SEMOGA ANDA PUAS