Ticker

6/recent/ticker-posts

TURUNKAN ANGKA STUNTING DENGAN PERBAIKAN GIZI SEDARI DINI




Penulis :  Yusri Mulyana,  Mahasiswa jurusan Sastra Daerah Minangkabau Universitas Andalas 

Indonesia adalah negara dengan kekayaan yang sangat melimpah, baik dari segi flora, fauna, maupun hasil bumi lainnya. Tidak heran jika kita menjadi banyak incaran bagi negara lain, karena memang, Indonesia sangat potensial terkait hasil bumi nya. Banyak dari negara lain yang bahkan mengekspor flora dari Indonesia yang memang mempunyai banyak keunggulan dibanding flora dari negara lain. Akan tetapi, ketersediaan flora dan fauna yang sangat banyak di Indonesia berbanding terbalik dengan pemanfaatannya yang sangat tidak optimal. Tidak optimalnya disini adalah dalam lingkup pemanfaatan flora dan fauna untuk gizi yang lebih baik lagi bagi penduduk pribuminya.  Salah satu contoh kasus dari tidak optimalnya pemanfaatan flora dan fauna adalah meningkatnya angka stunting pada anak di Indonesia. Banyak penduduk Indonesia yang mengalami gizi buruk. Mengherankan bukan ? Kita dalah negara yang sangat kaya dengan hasil buminya, tapi kenapa semakin tahun semakin banyak terjadinya kasus stunting di Indonesia ? Apa penyebab sebenarnya sehingga angka stunting semakin tahun terus bertambah ?
Stunting. Apa itu stunting ? Stunting adalah masalah gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu lama. Menurut UNICEF, stunting didefinisikan sebagai persentase anak-anak usia 0-59 bulan, dengan tinggi dibawah minus ( stunting sedang dan berat ) dan minus tiga ( stunting kronis ) diukur dari  standar pertumbuhan anak keluaran WHO.  Stunting terjadi karena asupan makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Stunting terjadi mulai dari dalam kandungan dan baru terlihat saat anak berusia 2 tahun. Stunting dapat disebabkan oleh banyak faktor, seperti pemberiaan asupan gizi yang kurang, pola asuh dari orang tua yang salah terkait pemberian makanan, faktor ekonomi, faktor sosial budaya, dan banyak faktor lingkungan lainnya yang dapat menyebabkan terjadinya stunting. Kita telaah satu persatu. Faktor pertama yaitu pemberian asupan gizi yang kurang. Hal ini dapat diakibatkan oleh beberapa faktor lainnya, yaitu kemampuan ekonomi keluarga yang kurang dalam menyediakan makanan yang bergizi untuk anaknya, pengaruh budaya atau kebiasaan yang tidak sesuai dengan konsep kehatan atau gizi yang baik sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Faktor lainnya yang dapat menyebabkan stunting yaitu pengaruh perilaku atau pola asuh orang tua yang salah dalam memberikan makanan kepada anaknya. Masih banyak para orang tua yang belum tau, seperti apa makanan bergizi yang harus diberikan kepada anaknya, bagaimana komposisinya dan bagaimana frekuensi pemberiaannya pada anak. Dari berbagai faktor diatas ada 1 faktor kunci kenapa angka stunting di Indonesia semakin tahun terus bertambah di Indonesia, yaitu pola asuh orang tua yang salah dalam memberikan asupan yang bergizi kepada anaknya. Dari faktor kunci inilah, kita bisa mengurangi angka stunting di Indonesia.
KBRN, Padang ; kasus stunting semakin meluas di sumatra barat. Berdasarkan rapat kerja daerah ( Rakerda ) BKKBN dengan pemerintah daerah sumbar, terpapar data, jumlah daerah dengan kasus stunting bertambah satu daerah. Tahun 2018 lalu, daerah dengan angka stunting yang tinggi, masing-masing pasaman dan pasaman barat. Sementara tahun ini bertambah satu daerah, yakni kota solok.  ini pekerjaan berat. Dinas kesehatan, BKKBN, serta kepala daerah harus fokus menuntaskan masalah ini. Apalagi ada anggaran dari daerah dan pusat. Pergunakan untuk melengkapi gizi ibu hamil dan balita. Membangun jamban yang layak supaya kasus diare tidak menyerang anak-anak. Sebab itu juga memicu stunting, ungkap wakil gubernur sumbar, Nasrul Abit. Sementara itu kepala BKKBN sumbar, syahruddin mengungkapkan, beragam penyebab stunting. Mulai dari pernikahan dini, ibu hamil dan balita kurang asupan gizi, sampai kondisi lingkungan yang tidak sehat. Penuntasan kasus stunting di daerah butuh waktu yang cuku lama, sehingga diperlukan penanganan berkelanjutan. Hasilnya pun tidak bisa dilihat dalam waktu satu dua tahun, melainkan 5 hingga 10 tahun ke depan. ( m.rri.co.id)
Dosen fakultas kesehatan masyarakat unand padang, sumatra barat menemukan masih tingginya prevalensi anak stunting di kabupaten Tanah Datar yakni mencapai 43,18 persen. penemuan tersebut berdasarkan hasil studi efek jangka panjang pemberian suplementasi gizi dan stimulasi psikososial terhadap tumbuh kembang anak usia 5 tahun di kabupaten Tanah Datar pada 2017, kata dosen FKM Unand Dr Helmizar saat di hubungi dari Padang, minggu (1/12/2019). Ia menyebutkan menurut Riskesdas prevalensi stunting di sumatra barat pada 2010 mencapai 32,7 persen kemudian mengalami peningkatan di 2013 yaitu 39,2 persen, sedangkan di kabupaten Tanah Datar prevalensi balita stunting mencapai 38,8 persen. Menurutnya pemberian asupan gizi yang cukup untuk pertumbuhan dan perkembangan anak penting. Pada sisi lain pemberian makanan tradisional berupa dadih juga efektif mencegah stunting. Fermentasi susu kerbau tersebut memiliki banyak kandungan gizi yang diperlukan tubuh, diantaranya mengandung 16 asam amino esensial dan mendandung vitamin A. (https://m.bisnis.com)

Sebenarnya, masalah stunting ini adalah maslah kronis yang tidak terjadi begitu saja, melainkan diawali dengan pemenuhan gizi yang salah pada 1000 Hari Pertama Kehidupan. Jika hal tersebut dibiarkan, maka anak akan tumbuh stunting, yang mana gejalanya akan tampak pada anak berusia 2 tahun. Pada usia ini, sudah sulit untuk mencegahnya, karena dari awal lahir, anak tersebut juga sudah kekurangan gizi yang sangat dibawah kebutuhannya pada saat itu. Jika hal tersebut tetap diabaikan, maka anak akan tumbuh cacat dengan kondisi mental yang tidak tumbuh dan berkembang sesuai dengan normalnya pada usia itu. Anak juga akan memiliki kekurangan dalam hal intelegensi dan kefokusan terhadapa pelajaran. Perkembangan emosionalnya juga sangat terhambat, jika hal itu terjadi, lingkungan sosialnya juga akan terpengaruh dan hal itu akan menyebabkan anak tidak berkembang dengan optimal. Jika tidak berkembang secara optimal, maka masa depan anak tersebut akan suram, dan penuh dengan kekurangan.

Post a Comment

0 Comments


SELAMAT DATANG DI SEMOGA ANDA PUAS