Ticker

6/recent/ticker-posts

Tetapnya Tradisi: Mengungkap Makna dan Signifikansi Batagak Gala di Kecamatan Guguak Panjang Bukittinggi


Oleh: Rahmat Fadlan Revano mahasiswa sastra Minangkabau universitas Andalas


   Tradisi Batagak Gala merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Kecamatan Guguak Panjang, Bukittinggi. Makalah ini bertujuan untuk menggali lebih dalam tentang makna dan signifikansi dari tradisi ini serta mengapa tradisi ini tetap terjaga hingga saat ini. Tradisi Batagak Gala, sebuah ritual yang berakar dalam budaya Minangkabau, telah menjadi ciri khas masyarakat Kecamatan Guguak Panjang, Bukittinggi, dan menjadi fokus penelitian dalam bidang antropologi budaya dan studi budaya. Makalah ini akan mengeksplorasi aspek-aspek yang lebih dalam dari tradisi ini, mencoba mengungkap makna yang tersembunyi di balik ritual tersebut serta signifikansi pentingnya dalam konteks budaya dan sosial.


Di dalam adat Minangkabau terdapat pepatah yang berbunyi “ketek banamo, gadang bagala” (kecil diberi nama dan apabila dewasa diberi gelar). Secara harfiah pepatah ini bermakna bahwa setiap laki-laki Minang yang dewasa akan mendapatkan gelar dari ninik mamaknya. Di keluarga istrinya itu seorang sumando tidak dipanggil dengan nama yang selama ini dia pakai melainkan akan dipanggil dengan gelar yang sudah diberikan oleh ninik mamaknya. Tradisi Batagak Gala memiliki akar yang dalam dalam budaya Minangkabau. Hal ini terkait erat dengan kehidupan sosial, budaya, dan religi masyarakat Minangkabau. Meskipun telah berlangsung bertahun-tahun, tetapi tradisi ini masih dijaga dengan kuat oleh masyarakat setempat.


 Setiap laki-laki Minang yang dewasa dan menikah akan mendapatkan gelar dari ninik mamaknya.Ukuran dewasa seorang laki-laki Minangkabau ditentukan apabila ia telah berumah tangga. Oleh karena itulah untuk setiap pemuda Minang, pada hari pernikahannya ia harus diberi gelar pusaka kaumnya. Terdapat tiga jenis gelar adat di Minangkabau, yang berbeda sifat, yang berhak memakai dan cara pengunaannya yakni : Gala Mudo (Gelar muda), Gala Sako (Gelar pusaka kaum), Gala Sangsako (Gelar kehormatan). Gala Mudo (gelar muda) yaitu : merupakan gelar yang diberikan kepada semua laki-laki Minang yang menginjak dewasa yang pemberiannya pada saat upacara pernikahan. Yang diberikan secara turun- temurun menurut garis ibu (matrilineal) dan yang berhak memberi gelar mudo adalah mamak dari kaum marapulai. Gelar ini sering dikaitkan dengan ciri, sifat dan status penerima.


   Tradisi Batagak Gala memiliki beragam makna yang meliputi nilai-nilai kebersamaan, kebersihan, dan keadilan. Dalam tradisi ini, setiap langkah memiliki simbolis yang dalam, mengajarkan nilai-nilai tradisional kepada generasi selanjutnya. Setelah pasambahan batagak gala (pemberian gelar) dilakukan dan sudah dihimbaukan gelar marapulai di tengah rumah oleh orang-orang yang datang. Maka pada hari itu sudah resmi marapulai tersebut dipanggil dengan gelar yang sudah diberikan untuk dibawa kerumah mertuanya (istri). Dan proses selanjutnya marapulai akan bersiap-siap untuk pergi ke tempat akad nikah yang akan diantar oleh keluarganya yang terdiri dari orang tua, ninik mamak, datuak dan hadirin yang datang dalam acara pemberian gelar di rumah si marapulai.

Ada macam-macam gelar yang diberikan kepada marapulai dalam proses pemberian gelar yang ada di Kota bukittinggi sebagai berikut : Rajo yang berarti Raja, Bandaro atau Mandaro, Panduko yang berarti Paduka, Bagindo (Baginda), Maharajo atau Marajo (Maharaja), Sutan (Sultan), Basa (besar), Batuah (bertuah), Gadang (besar), Gamuak (gemuk), Sati (sakti), dan Indo (indera)


Makna pemberian gelar pada sumando:

1. Pemberian gelar bertujuan untuk memberi tanda bahwa laki-laki tersebut sudah menikah atau berkeluarga.

2. Sebagai pembeda antara laki-laki yang sudah menikah dengan laki-laki yang belum menikah.

3. Sebagai pembeda penyebutan nama karena biasanya penyebutan nama seseorang dilakukan dengan menyebut nama yang telah diberikan oleh orang tua ataupun keluarga sejak lahir, tetapi bila dia telah menikah dia akan di berikan gelar yang nantinya ketika penyebutan nama nya (memanggil) orang tersebut akan dipanggil dengan gelar yang telah didapat ketika telah menikah.

4. Laki-laki yang sudah diberi gelar tersebut dia sudah dianggap dewasa dan buah fikirannya kan didengar oleh para tetua-tetua adat.

5. Laki-laki yang sudah menikah dan mempunyai gelar menjadi sumando di keluarga istrinya dia juga akan diikutsertakan dalam berbagai acara adat seperti: upacara pernikahan, acara batagak pengulu dan dalam acara-acara besar yang ada di kampung istrinya maupun di kampungnya sendir

   Tradisi Batagak Gala memiliki signifikansi yang kuat dalam mempertahankan identitas budaya Minangkabau. Melalui tradisi ini, masyarakat dapat merayakan dan memperkuat ikatan sosial serta menjaga kearifan lokal mereka. Penyelenggaraan pernikahan dengan ritual adat Minangkabau yang antara lain berupa upacara pemberian gelar adat kepada mempelai lelaki,yang merupakan salah satu acara penting yang harus dilaksanakan dalam upacara pernikahan di Minangkabau khususnya Kota Bukittinggi. Di Kota Bukittinggi pemberian gelar adat kepada mempelai laki-laki tidak boleh tinggal karena itu merupakan ritual penting yang harus ada. Kegiatan itu dilakukan dalam sebuah upacara yang disebut dengan upacara pidato Pasambahan Batagak Gala (Persembahan Bertegak Gelar, selanjutnya disingkat menjadi PBG). Upacara ini dilaksanakan di rumah keluarga marapulai (mempelai laki- laki) dihadiri oleh anggota kerabat yang laki-laki. Khusus di Kota Bukittinggi atau Nagari Kurai proses pemberian gelar atau pasambahan batagak gala ini dilakukan sebelum marapulai pergi ke tempat akad nikah. Tradisi Batagak Gala di Kecamatan Guguak Panjang, Bukittinggi, bukan hanya sekedar serangkaian ritual, tetapi juga merupakan cerminan dari kehidupan dan nilai-nilai masyarakat Minangkabau. Dengan memahami makna dan signifikansi tradisi ini, kita dapat lebih menghargai dan mendukung upaya pelestariannya untuk generasi mendatang.


Di Minangkabau terdapat tiga jenis gelar yang berbeda sifat, yang berhak memakai dan cara pengunaannya yakni : Gala Mudo (Gelar muda), Gala Sako (Gelar pusaka kaum), Gala Sangsako (Gelar kehormatan). Gelar Mudo yaitu merupakan gelar yang diberikan kepada semua laki-laki Minang yang menginjak dewasa yang pemberiannya pada saat upacara pernikahan yang diberikan secara turun-temurun menurut garis ibu (matrilineal). Gelar sako yaitu gelar pusaka kaum yaitu gelar datuak, pengulu atau raja. Gelar sako adalah gelar turun temurun menurut garis ibu. Gelar sangsako yaitu gelar kehormatan yang diberikan kepada seseorang yang berjasa, berprestasi yang mengharumkan Minangkabau, agama Islam, Bangsa dan Negara serta bermanfaat bagi warga Minangkabau.


Proses pemberian gelar kepada sumando melalui Pasambahan Batagak Gala. Gelar diwariskan menurut garis kekerabatan matrilineal dari ninik mamak kepada kemenakan laki-lakinya yang akan menikah. Dalam acara pasambahan batagak gala di Kota Bukittinggi ada namanya kata panitahan antara si alek dan si pangka. Si alek disini yaitu keluarga yang mempunyai perhelatan atau pesta yang diwakili ninik mamak. Sedangkan si pangka disini yaitu yang menghadiri perhelatan seperti datuak, alim ulama, bako dan para tamu yang datang. Jika terjadi permasalahan dalam rumah tangga yang berujung kepada perceraian maka seorang sumando harus meninggalkan rumah istrinya dan kembali ke rumah orang tuanya. Maka gelar yang dipakainya selama ini akan hilang secara sendirinya karena dia bukan lagi seorang suami untuk istrinya. Dan jika dia menikah kembali dengan perempuan lain maka dia akan mendapat gelar baru lagi.

Post a Comment

0 Comments


SELAMAT DATANG DI SEMOGA ANDA PUAS